MASUKNYA ISLAM
DI POSO:
Sebuah Resensi “Buku Sejarah Poso”
Oleh:
Muhammad Achail Darwis
Masuknya
Islam di Poso masih merupakan tanda tanya besar bagi masyarakatat Poso sendiri
khususnya para ahli sejarah Sulawei Tengah. Namun beberapa data seperti data
arsip Belanda, sumber lokal maupun cerita rakyat yang menyatakan bahwa masuknya
Islam di Poso dapat dikategorikan dalam tiga fase, 1) fase yang dilakukan oleh
para pedagang Islam Bugis, 2) fase yang dilakukan oleh Kesultanan Ternate, dan
3) fase yang dilakukan oleh orang Arab.
Pengenalan
ajaran Islam di sepanjang pantai pesisir pantai Tojo dan Una-Una dan Poso
Pesisir, didominasi oleh para saudagar yang berasal dari tanah Bugis. Hal ini
dapat dibuktikan dari pengaruh Islam Bugis dimana di kalangan masyarakat Tojo
dan Una-Una serta Togean Kepulauan, dalam mangajarkan huruf-huruf Al-Qur’an
lebih banyak menggunakan ejaan Bugis. Bukti lain didapatkan dalam buku Mededeelingen van Het Bureau Voor de
Bestuurzaken der Buitebezettinge, yang
menyebutkan bahwa pengenalan awal tentang agama Islam di Bungku, Mori
(Kolonodale), Tojo Una-Una dan Poso Pesisir dilakukan sekitar akhir abad XVI
yang dibawa oleh para sudagar yang berasal dari Bugis Bone dengan menggunakan
kapal tradisional Phinisi.
Demikian
pula, pengalaman Islam di wilayah Pebato (Poso Pesisir) juga dilakukan oleh pedagang-pedagang
Bugis yang melakukan pencarian damar dan rotan sekitar wilayah tersebut. Umumnya
pedagang-pedagang Bugis dalam melakukan perdagangan dan menyampaikan ajaran
Islam kepada penduduk setempat menggunakan alat transportasi laut sebagai
kendaraanya. Penyebaran ajaran Islam di wilayah ini, oleh pedagang-pedagang
Bugis tersebut sebagai “peletak dasar” terhadap pengetahuan awal tentang ajaran
Islam di wilayah Poso Pesisir (Mapane). Tahap permulaan pengenalan Islam belum
terasa pengaruhnya bagi Poso Pesisir, karena orientasi mereka lebih
terkonsentrasi pada pencapaian kesuksesan perekonomian. Pengembangan Islam
bukan fokus utama mereka.
Pada
tahap pertama, saudagar-saudagar Islam Bugis yang berasal dari Bone tidak
memperlihatkan usaha-usaha penyebaran Islam secara menyeluruh kepada penduduk,
tetapi lebih memilih bersikap dan bertindak sebagai orang muslim tanpa harus
mempengaruhi orang lain. Sikap dan perilaku yang diperlihatkan oleh saudagar
dan merupakan pendatang, yang tentunya sikap dan tindakannya harus dilakukan
secara hati-hati agar tidak menimbulkan penolakan dari para penguasa ataupun
dari rakyat setempat.
Fase
pertama ini tidak menghasilkan perkembangan Islam yang berarti dan secara
kualitatif pemeluk agama Islam sangat sedikit dan bahkan dapat dikatakan
perkembangannya sangat lambat. Meski demikian usaha ini dapat dikatakan sebagai
“peletak dasar” benih-benih keislaman di sepanjang wilayah pantai Pesisir Poso.
penanaman benih-benih keislaman ini merupakan cikal bakal perkembangan Islam
nantinya. Perkembangan pada fase ini juga dapat dikatakan sebagai “pondasi
awal” dikalangan penduduk setempat sebelum datangnya pengaruh Kesultanan
Ternate yang penyebarannya dilakukna oleh Mubalig yang datang dari Ternate.
Sumber
lokal dan tradisi lisan masyarakat setempat menjelaskan bahwa Islam masuk di
wilayah Poso diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Bugis yang berasal dari
Kerajaan Bone sekitar abad XVI. Tetapi, tidak diketahui secara pasti siapa nama
pedagang Bugis tersebut yang merupakan pembawa Islam pertama di wilayah
Kerajaan Poso Pesisir. Namun yang pasti bahwa pegenalan Islam di wilayah Poso
Pesisir dilakukan oleh pedagang-pedagang Bugis Bone. Sedangkan pengenalan Islam
di wilayah pedalaman (Vorstelanden) Kerajaan Lore, Bada, dan Napu dilakukan
setelah pihak Belanda masuk di wilayah tersebut sekitar abad XX, yang dilakukan
oleh pedagang-pedagang Islam di Sulawesi Selatan. Mereka umumnya berasal dari
Bugis, seperti Daeng Mabate, Daeng Malongi, yang berdagang hingga ke wilayah
Bada, Daeng Matiro, Daeng Palindungi, Indorila, Ranti (Pua’na Batjo) yang
berdagang hingga ke wilayah Besoa, serta Daeng Patatempa dan Pua’na Halima yang
melakukan perdagangan ke wilayah Napu.
Nama-nama
inilah menjadi peletak dasar ajaran Islam di wilayah pedaman Poso khususnya masyarakat
Lembah Lore. Puana Halima berprofesi sebagai seorang pedagang campuran yang
mengunakan kuda sebanyak 30 ekor sebagai tunggangan untuk mengangkut barang
dagangannya dan disebut sebagai Kuta Pateke. Puana Halima memperkenalkan ajaran
Islam tanpa paksaan.
Melihat
sikap dan perilaku yang dilakukan oleh pedagang Bugis tersebut. Maka pada tahun
1920 para pedagang Bugis Islam diberi satu desa oleh raja Kado yang letaknya di
antara Wasa dan Watumaeta, yaitu desa Popabohua. Desa ini menjadi pusat
pedagang-pedagang Bugis yang secara tidak langsung juga melakukan penyebaran
Islam di kalangan masyarakat Lembah Lore. Para pedagang tersebut berusaha
memperkenalkan ajaran Islam melalui perkawinan. Pada 1920, Ranti kawin dengan
seorang wanita Besoa yang bernama Bare, yang pernikahanya mendapat pertentangan
dari pihak wanita. Perkewinan tersebut membuktikan bahwa, Bare adalah wanita
pertama yang diperkenalkan ajaran-ajaran Islam oleh Puana Batjo (Ranti). Di
wilayah Napu, orang yang pertama diperkirakan memeluk agama Islam adalah putri
bernama Haya yang kawin dengan pedagang dari Sulawesi Selatan.
Ranti
yang melakukan proses islamisasi di wilayah Kerajaan Lore (Napu dan Besoa)
dibantu oleh para pedagang lainnya. Islam masuk di wilayah Bada diperkirakan
terjadi pada tahun 1920. Upaya para pedagang untuk menyebarkan ajaran Islam di
wilayah Napu, Bada dan Besoa mengalami hambatan. Hambatan terhadap pengenalan
Islam di wilayah tersebut disebabkan masyarakatnya masih memegang teguh
keyakinan halaik atau kepercayaan
suku mereka, sekalipun intensitanya
makin lama makin menurun. Namun demikian usaha dakwah tetap dilakukan tanpa
harus meninggalkan tugas utama mereka sebagai seorang pedagang. Perkembangan
Islam di wilayah tersebut mengalami kemajuan ketika keluarga-keluarga Bugis
yang berasal dari Duri datang di wilayah tersebut dan melakukan perkawinan
dengan penduduk setempat. Walaupun telah tersentuh oleh ajaran Islam, tetapi
masih ada pula yang menyakini kepercayaan halaik dengan kata lain terjadi akulturasi
antara ajaran Islam dengan kepercayaan setempat di kalangan masyarakat Napu dan
Bada.
Fase
kedua dalam penyebaran Islam di Poso dipengaruhi oleh Kesultanan Ternate. Pengaruh
Kesultanan Ternate di kawasan Indonesia Timur khususnya sepanjang Kerajaan
Bungku, Mori, Banggai, Kerajaan Tojo dan Una-una, dan Kepulauan Togean dan di
wilayah-wilayah sepanjang pantai Poso Pesisir mulai nampak pada masa
pemerintahan Sultan Hairun. Pada 1563 Sultan Hairun bermaksud mengislamkan
Sulawesi Utara, Gorontalo, Moutong, Tomini, Tinombo, Sugenti, Kasimbar, Parigi,
Sausu, Tojo, Ampana, dan Kepulauan Una-una dan Togean, namun hal tersebut dihambatan
oleh tentara Portugis yang mengirimkan seorang missionaris yang bernama Peter
Magelhaens. Sultan selanjutnya yaitu Sultan Baabullah yang berkuasa antara
1570-1580, berhasil membangun kekuatan maritim sehingga mampu menguasai wilayah
Sulawesi dan Kepulauan Philipina.
Kekuatan
militer dan kondisi tersebut tersebut, tampak bahwa penyebaran Islam di Poso
merupakan gerak lanjut dari penyebaran Islam di Ternate. Perkembangan
berikutnya, kerajaan-kerajaan yang berada dibawah pengaruh kesultanan Ternate
meliputi Sasak (Lombok) Mena (Timor), Mawojang (Ende), Kajeli, Donggala,
Mandar, Pesisir Utara dan Pesisir Pantai Timur Sulawesi (Moutong, Kasimbar,
Parigi, Sausu) Poso Pesisir, Ampana, Una-una, Kepulauan Togean, Buton,
Kepulauan Muna, Kepulauan Sangihe, Minahasa, Sabah, Mindanao, Kelu, Zamboanga,
dan seluruh Kepulauan Maluku. Penyebaran Islam di kawasan tersebut dapat
dibuktikan dari keterangan J.C. van Leur, bahwa daerah-daerah terjauh dan
terdekat sebagian besar telah diislamkan. Faktor keberhasilan itu ditunjang
oleh Kesultanaan Ternate yang didukung oleh kekuatan maritim dan kemampuan
ekonomi dari hasil perdagangan rempah.
Daerah-daerah
kerajaan di bawah pengaruh Kesultanan Ternate berkewajiban membayar uperti
sebagai bentuk persembahan kepada raja yang memerintah pada saat itu. Pengaruh
Kesultanan Ternate di kawasan Indonesia Timur ini meluas ke sepanjang pesisir
Pantai Poso, sebagai daerah jalur lalu lintas para pelaut dan pedagang Islam.
Sebelum
Islam masuk di Poso (kabupaten Poso sekarang), terlebih dahulu bermula dari
Kerajaan Bungku sekitar pertengahan Abad XVI. Tokoh penyebar Islam pertama di
Bungku yang berasal dari Kesultanan Ternate adalah Syekh Maulana atau yang
lebih dikenal dengan Datu Maulana Bajo Johar. Proses penyebaran Islam oleh
Syekh Maulana dilakukan pada masa pemerintaha raja Bungku pertama yaitu Marhum
Sangia Kinabuku. Kerajaan Bungku memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Ternate
karena mempunyai jalur lalu lintas perdagangan regional sehingga memiliki
keterkaitan dengan dunia perdagangan ternaksud perkenalan dan sosialisasi Islam
sebagai Agama Kerajaan Bungku. Hasil penelitian Widjono Wasis menunjukkan bahwa
Islam masuk di wilayah Palu, Poso, Tojo Una-Una sekitar tahun 1680 M.
Proses
penyebaran Islam di wilayah Kerajaan Bungku selanjutnya dilakukan oleh Kasili.
Kasili adalah seorang pedagang rotan dan damar yang berasal dari ternate dan
juga sebagai mubalig. Kasili memiliki badan yang tinggi besar, pemimpin perang,
memiliki janggut yangpanjang dan suka memakai topi (songko) turki (songko
turki). Penyebaran Islam yang dilakukan oleh beliau mubalig lokal yang ada di
Bungku yang memiliki kecakaapan dalam menggunakan bahasa Arab, dan mampu meyakinkan
masyarakat.
Raja-raja
Bungku yang pernah diperkenalkan dengan ajaran Islam oleh Kasili adalah Abdul
Wahab yang meninggal di Mekkah, Ahmad Haji, dan Abd Razak. Penyebaran Islam di
wilayah Bungku juga dibantu oleh beberapa orang Kadi yang ada di Kolonodale,
dan yang paling terkenal adalah Puang Nusu dari Balanipa Sulawesi Selatan.
Selain
itu penyebaran Islam di Kerajaan Bungku juga dibantu oleh beberapa imam lokal,
diantaranya adalah Malane yang menyebaran Islam hingga ke wilayah Kolonodale:
Imam H. Muh. Hamid yang dikenal dengan nama Imam Kantoba, yang penyebarannya
hingga ke wilayah Salabangka dan suku-suku lainnya termaksud suku Bajoe, dan
Imam H. Muh. Alauddin.
Sedangkan
Islam diwilayah Poso yakni di Posos Pesisir dibawa oleh pedagang Bugis yang
bernama Baso Ali dan oleh orang Arab dikenal dengan panggilan Toean Sayyid.
Menurut kisah rakyat diceritakan bahwa Baso Ali merupakan seorang pedagang
Bugis yang sangat berani masuk ke wilayah Poso Pesisir, karena wilayah ini
jarang didatangi oleh pendatang untuk melakukan perdagangan. Hal ini disebabkan
karena orang-orang To-Pebato merupakan suku yang suka berperang, bahkan Albert
Christian Kryut mengungkapkan bahwa To-Pebato merupakan suku yang suka
melakukan pemotongan kepala (topongayo).
Penuturan
lain menceritakan bahwa Baso Ali, sebagai seorang pedagang yang menganut ajaran
Islam, suka melakukan perjalanan. Perjalanan Baso Ali tentunya untuk melakukan
perdagangan dan penyebaran Islam, beliau melukan perjalanan dari Poso Pesisir
ke Palu hingga ke Kulawi dan disana ia kawin dengan wanita yang ada di
Kulawi. Kemudian beliau melakukan
perdagangan di wilayah Besoa hingga ke Bada. Dan disana ia melakukan perkawinan
dengan seorang wanita pribumi di wilayah Besoa. Setelah menetap di Besoa
akhirnya beliau kembali ke Mapane. Keturunan dari Baso Ali yang berasal dari
Palu dikenal dengan nama Dumia, keturunan dari Kulawi dikenal dengan nama
Lapadua’e, sedangkan dari Besoa disebut dengan Adjo Bolo.
Masjid
yang tertua di wilayah Mapane adalah masjid Nunu yang dibangun tahun 1930 dan
pemborongnya adalah seorang Cina yang bernama A Tek. Kayu yang digunakan dalam
pembangunan mesjid tersebut adalah kayu jenis cempaka, kayu besi dan seng merk
Apollo. Proses islamisasi di wilayah Mapane dibantu oleh para imam-imam mesjid
itu antara lain: Guru Manan, Nuhu, Muh. Sado Lawira. Karim Lawira, Abd. Pakusu
Basatu, Islam Labatjo dan Abd. Razak.
Tidak
ada uraian jelas yang dikemukakan oleh Albert Christian Kruyt, N. Adriani,
Wolter Kaudrn, J. Esser maupun dalam cerita-cerita rakyat bahkan dalam oral
history tentang tahun berapa masuknya Islam di wilayah Poso, namun yang pasti
bahwa Islam masuk di Poso sejak pertengahan abad XVII yang dibawa oleh
pedagang-pedagang yang berasal dari Bugis.
Melalui
suatu ukuran waktu yang panjang kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Bungku, Tojo,
Una-Una, Pamona, Mori dan pedalaman Poso (Napu, Besoa, serta Bada) telah
menerima pengaruh Islam dari dua jurusan yaitu: pertama agama Islam dari selatan,
yaitu para pedagang-pedagang Bugis, meskipun para pedagang itu tidak
memperhatikan kualitas dan kauntitas peneluk Islam karena perhatian mereka
adalah berdagang. Kedua, dari Timur yaitu Kesultanan Ternate, yang dibawa oleh
para mubalig dari Ternate seperti Syekh Maulana dan Kasili di Kerajaan Bungku
dan Baso Ali di Poso Pesisir yang memperkenalkan Islam tanpa paksaan.
Ada
dua aliran agama Islam masuk di wilayah Poso yaitu aliran yang dibawa oleh para
saudagar yang berasal dari Bugis maupun Mandar dengan menggunakan aliran yang
bersifat fleksibel. Aliran semacam ini lebih dikenal dengan istilah Islam Tua. Perkembangan
Islam Tua tidak terlalu memperdulikan jumlah pemeluknya, dan umumnya lebih
banyak disebarkan kepada masyarakat awam dengan hubungan pribadi tanpa unsur
paksaan, dan dilingkungan keluarga. Perkembangan ini menyebabkan penyebaran
Islam bersifat statis.
Pada
pertengahan abad XVII masuklah pengaruh Islam dari jalur timur yaitu dari
Kesultanan Ternate yang dibawa oleh mubalig-mubalig yang menyebar ke seluruh
wilayah Poso. Penyebaran Islam di Poso yang dibawa oleh mubalig yang berasal
dari Ternate ini dikenal dengan istilah agama Islam Muda. Disebut Islam Muda
kerana untuk membedakan dengan Islam Tua, dan untuk menbedakan jenjang waktu
masuknya Islam di wilayah ini. Agama
Islam muda ini lebih mementukngkan kualitas dan jumlah pemeluknya dan Islam
Muda mampu mempertahankan ajaran Islam murni di tempat penyebarannya sehingga
unsur-unsur kepercayaan lokal tidak lagi dominan.
Usaha
Penyebaran Islam mendapat keberhasil yang besar. Sebab usaha yang ditempuh oleh
para mubalig yang berasal dari pedagang-pedagang Bugis maupun para mubalig yang
berasal dari Ternate mampu melakukan tindakan persuasif terhadap raja-raja yang
ada di Pesisir Poso. Setelah memeluk Islam umumnya mereka berganti nama yang Islami,
walaupun para raja tersebut masih menganut Islam sinkretis. Penyebaran agama
Islam di Poso oleh para saudagar Bugis tidak dilakukan secara tuntas dikalangan
masyarakat biasa, sehingga ajaran Islam tidak berurat akar di dalam masyarakat
dan bercampur dengan kepercayaan lokal (sinkretisme), dan bahkan mengalami
proses mitologisasi.
Suatu
keunikan yang dimiliki daerah Poso oleh para saudagar merupakan jalur lintasan
perdagangan di Nusantara adalah bahwa sebelum adanya pengaruh Portugis, di
wilayah tersebut telah terjadi aktivitas perdagangan dan pelayaran dan navigasi
tradisional dan telah melakukan integrasi regional dan internasional
perdagangan antar pulau. Hal ini berkaitan dengan sifat dan sikap para
pedangang dan pelayar yang cenderung mengembara mencari daerah pasaran dan
daerah produksi komoditi. Hubungan politikpun tercipta berkat adanya jalinan
perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan pelayar tersebut. Interaksi
antara masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi memungkinkan terbentuknya
komunitas-komunitas baru Islam dimanapun mereka singgah. A.B. Lapian
mengemukakan bahwa terdapat beberapa indikator yang menunjukkan sudah sejak
lama ada interaksi pelbagai sistem kelautan yang ada di Nusantara.
Jika
dicermati tampak bahwa proses Islamisasi yang ada di wilayah Poso memberikan
suatu kesan bahwa pengaruh dari luar lebih dominan dalam pengislaman wilayah
tersebut. Namun demikian, dari beberapa sumber arsip Belanda maupun
sumber-sumber lokal lainnya juga terlihat bahwa penduduk sepanjang wilayah
tersebut dengan pengetahuan navigasi maritim tradisional mampu mengarungi
lautan sampai Gorontalo, Ternate, Minahasa, bahkan sampai ke Jawa, dan
karenanya ini memberikan gambaran bahwa penduduk pribumi juga memiliki andil
dalam penyebaran Islam di wilayah Poso. Hal ini dapat dibuktikan pula dengan
tampilnya para tokoh-tokoh pribumi seperti Marodong, Malane, H. Muh. Alauddin,
H. Muh. Hamid yang dikenal dengan nama Kantoba,
di kerajaan Bungku, Guru Manan, Imam Nuhu, Muh Sado Lawira, Karim Lawira, Abd
Pakusu Basatu, Islam Labatjo, Abd. Razak yang kesemuanya berasal dari wilayah
kerjaan Poso Pesisir. Demikian pula wilayah Kerajaan Tojo, seperti Imam Bunai,
Pabemba, Lengke Mawo, dan Mangge Noho.
Kajian
Ricklefs pada umumnya proses islamisasi berlangsung dalam dua tahap. Pertama,
penduduk berhubungan dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua,
orang-orang asing seperti Arab, India, Cina dan lainnya yang menganut agama
Islam tinggal secara permanen di suatu tempat, selanjutnya melakukan perkawinan
campuran dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa, namun sebenarnya
mereka itu sudah memeluk Islam.
Tetapi
data dan informasi di lapangan tentang masuknya Islam di Poso teryata
berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan kurang informatifnya bahan-bahan sejarah
yang autentik dan terlalu jauhnya rentang waktu masuknya Islam di wilayah
tersebut.
Pada
prinsipnya kedatangan Islam di wilayah Poso memiliki beberapa motif yaitu: 1)
motif ekonomi, 2) motif penerimaan yang didorong agama, dan 3) motif pengembangan
atau yang dorong oleh politik.
Motif
ekonomi pada umumnya di lakukan oleh para saudagar-saudagar yang berasal dari
Selatan yaitu Bugis. Pola mereka dalam memperkenalkan ajaran Islam tersebut
lebih bersifat individu dan tidak mementingkan jumlah penganutnya. Namun tidak
bisa disangkal bahwa mereka inilah yang membawa benih-benih ajaran keislaman di
wilayah Poso. Tetapi pada periode ini penerimaan Islam di wilayah Poso tidak
bersifat pasif. Karena munculnya para Imam lokal, seperti telah disebutkan di
atas, sangat membantu perkembangan dan penyebaran Islam di sepanjang pantai
Teluk Tolo dan Teluk Tomini.
Kemungkinan
setelah periode penerimaan, dengan dorongan motif agama, telah dibangun mesjid
atau langgar sebagai pusat kegiatan masyaraakat Islam. Hal ini sesuai dengan
kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendirikan mesjid atau langgar
dimanapun di kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam. Hal ini
yang perlu kita pertanyakan adalah sejak kapan mesjid pertama kali didirikan
dan di wilayah mana pertama kali dibangun. Tidak ada suatu catatan yang pasti,
namun yang jelas bahwa pendirian mesjid di wilayah Poso sejak lama sudah ada,
bahkan di Kerajaan Bungku terdapat Mesjid Tua yang diperkirakan setua kerajaan
Bungku itu sendiri dan merupakan salah satu mesjid tertua di Sulawesi Tengah.
Fase
perkembangan penyebaran Islam pada tahap yang dilakukan oleh orang-orang Arab
intensitasnya terjadi sekitar jauh sebelum abad XX. Peranan orang-orang Arab
dalam penyebaran Islam di tanah air cukup besar. Proses penyebaran Islam di
wilayah Poso yang dilakukan oleh orang Arab dilakukan secara terorganisir. Hal
ini dibuktikan dengan datangnya Al’alimul Allamah Albahrul Fahharabbiqny Alhaj
Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie yang berasal dari Palu. Masyarakat Sulawesi
Tengah pada umumnya dan Poso pada khususnya menyebut dengan panggilan Guru Tua
atau lebih akrab Ustad Tua.
Sayyid
Idrus Bin Salim Aldjufrie ketika berusia muda telah menunaikan ibadah Haji
bersama ayahnya. Pada tahun 1914 untuk pertama kalinya beliau melakukan
kunjungna ke Indonesia dalam rangka kunjungna keluarga di Pulau Jawa dan
Sulawesi.
Sejak
“peristiwa Aden” meletus di hadratulmaut, Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie
meninggalkan tanah tercintanya untuk selama-lamanya dan hijriah ke Indonesia.
Ia menjadi seorang mubalig dan saudagar di Batavia, Solo, Jombang, dan terakhir
di Pekalongan. Kemudian ia hijrah ke Makassar, Maros, Donggala, dan Manado.
Pada
1929 Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Wani, kedatangan beliau atas
ajakan masyarakat Arab melalui saudaranya, Syeh Aldjufrie di Manado. Kedatangan
Guru Tua di Wani oleh masyarakat diupayakan untuk mempercepat pembukaan
madrasah. Agar Ustad Tua mau lebih lama tinggal di Wani, maka Sayyid Idrus Bin
Salim Aldjufrie dijodohkan dengan seorang wanita keturunan Arab Wani, Syarifah
Kalsum bin zen Almahdany. Pembukaan madrasah di Wani ternyata tidak diizinkan
oleh Belanda, sehingga madrasah tersebut dialihkan ke Palu. Pada tahun yang
sama Ustad Tua melakukan pendekatan terhadap raja Parigi, Moutong, Poso, dan
Tojo serta kepala penghulu agama. Pada periode ini pula Sayyid Idrus Bin Salim
Aldjufrie, melakukan pendekatan kepada masyarakat Pagiri, Poso, Ampana, Luwuk,
Banggai, Tinombo, Gorontalo, Manado, dan wilayah Ternate, dan juga daerah
Kalimantan serta pulau Jawa.
Pendekatan
melalui para raja dan kepala pemerintahan setempat membantu proses penyebaran
Islam yang dilakukan oleh Ustad Tua. Itulah sebabnya masyarakat Poso banyak
mendukung dan mengikuti program yang dicanangkan oleh Ustad Tua. Disamping
penyebaran Islam di kalangan masyarakat Poso, Ustad Tua juga melakukan
pencarian dama dalam rangka pembangunan gedung Al-Khairaat pada tahun 1930.
Penyebaran
Islam yang dilakukan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie di wilayah Poso dan
sekitarnya membawa dampak terhadap perkembangan Islam. Namun demikian pada
tahun 1942, pihak kolonial menghukum Ustad Abdussamad, kepala Madrasah Cabang
Dondo-Ampana bersama 5 kawannya, dan dibuang ke laut antara Tojo dan Poso di
perairan teluk Tomini.
Sayyid
Idrus Bin Salim Aldjufrie mengembangkan faham aliran ahli sunnah waljamah yang
biasa juga disebut dengan aliran Asy’ariyah, sedangkan mazhabnya adalah
Syafi’iyah. Pembukaan Madrasah Al-Khaeraat oleh Sayyid Idrus Bin Salim
Aldjufrie merupakan kesempatan untuk menimbah ilmu pengetahuan agama.
Murid-murid dalam Madrasah pada tahun 1950-an ini berasal dari daerah yang ada
di Sulawesi Tengah tanpa terkecuali dari daerah Poso yang diantaranya: H.A.
Badjeber, Mahfud Badjeber, Jabo S., Abd. Gani (Poso), dan Sahel Adu.
Atas
perintah dan petunjuk dari Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie, pengembang ajaran
Islam yanga ada di Bungku dipercayakan kepada Hasjim pada tahun 1940. Kemudian
pada tahun 1941 dibuka Madrasah Al-khaeraat wilayah Poso Kota dan desa Ngawia
yang dipimpin langsung oleh Nawawian Abdullah dan Nur Hasan.
CEERITA YANG MENARIK
BalasHapusTerimakasih telah menulis masuknya Islam di Poso, sangat bermanfaat buat tambahan literatur siswa terutama dalam pembelajaran sejarah peminatan terutama sebagai muatan lokal
BalasHapus