Minggu, 12 Maret 2017

Konflik Sosial (Sebuah Analisis Sosiologi Terhadap konflik Sosial di Desa Padende-Binangga)

Konflik Sosial
(Sebuah Analisis Sosiologi Terhadap konflik Sosial
di Desa Padende-Binangga)
Oleh: Muhammad Achail Darwis

ABSTRAK
Konflik Sosial biasanya diangap suatu hal yang biasa terjadi didalam kehidupan bermasyarakat khususnya di Kabupaten Sigi. Ini merupakan langgana setiap bulangnya bagi daerah ini. Padahal dalam kasus ini yang menjadi permasalahan hanyalah hal sepeleh saja dan konflik ini mengarah pada konflik persaudaraan yang dilihat dari agama dan bahkan berasal dari Suku yang sama. Tetapi konflik ini cenderung dibiarkan begitu saja oleh aparat kepolisian bahkan mereka ikut larut dalam pertikaian ini. Untuk menanggulangi permasalahan yang berlarut-larut ini hendaknya kita harus duduk bersama untuk membicarakan hal ini demi kesejatraan bersama-sama.

Kata Kunci: Konflik sosial.

PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
            Kondisi yang tanpa seiring dengan krisis multidimensional di Indonesia, yakni meningkatnya kejahatan sosial, kerusuhan sosial/kekerasan kolektif antar etnis, agama, dan kelompok yang sangat mempengaruhi tumbuhnya disentegrasi sosial yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Kompleksitas masalah sosialyang melanda bangsa Indonesia merupakan ujian dalam tata kehidupan berbagsa dan bernegara. Konflik sosial yang terjadi merupakan imbas dari pertentangan elit politik yang masih mencari keseimbangan baru dalam era antara transisi dan reformasi. Pertentangan pilitik melahirkan kelompok-kelompok tertentu yang secara politis mengginkan kelenggangan konflik, agar dapat dijadikan alasan bahwa politik yang tidak dapat menyelesaikan masalah. Dengan demikian, heterogenitas masyarakat secara sosial kultural sangat potensial menjadi pemicu terjadinya konflik. Masalah suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) sangat rentang sifatnya dalam masyarakay sehingga kata toleransi sudah tidak punya arti lagi karena masing-masing pihak mempertehankan diri berdasarkan subyektif lokal dan semua komponen masyarakat terlibat secara total. Konflik yang terjadi dalam suatu masyarakat selalu membawa kesengsaraan rakyat, mengubah secara total perilaku kehidupan masyarakat. Warga diliputi kecemasan, antisipasi dalam malakukan denda, dampak lainnya yang ditimbulkan adalah kerusakan fisik bangunan dan kerugian material.
Tindak kekerasan muncul karena adanya kondisi yang menghalangi anggota masyarakat untuk mendapatkan rasa aman dan harapan-harapan mereka. Menurut Seart konflik akan terjadi secara kolektif dalam masyarakat karena adanya kesenjangan relatif. Kesenjangan tersebut berkaitan dengan adanya ketidak puasan dalam kelompok obyektif, tetapi juga perasaan kurang secara subyektif yang lebih besar di banding dengan kelomok atau orang lain.[2]
Seart juga menjelaskan bahwa penyebab lain konflik antar kelompok adalah apabila keduanya bersaing untuk saling memperebutkan sumber daya yang langka. Kedua kelompok tersebut saling bermusuhan dan menciptakan penilaian negatif yang tidak dapat dielakkan.[3]
Tindakan kekerasan dilihat dari pihak-pihal yang terlibat pada umumnya berbeda baik etnik maupun agama atau mereka adalah kaum pribumi pendatang namun demikian, tidak semua kekerasan (konflik) bersumber dari etnik, agama, atau asal-usul yang berbeda. Salah satunya antar kelompok sosial yang melibatkan masyarakat Desa Padende-Binangga di Kabupaten Sigi. Mereka terlibat dalam aksi tersebut tidak berbeda baik etnik maupun agamanya. Dilihat dari asal-usulnya mereka juga sama.
Kerangka berfikir diataslah yang mendasari peneliti menulis konflik sosial yang terjadi antara masyarakat Desa Padende-Binangga di Kabupaten Sigi, sebagai salah satu kabupaten yang telah mengalami tertumbuhan yang pesat dan telah mendorong terjadinya pengelompokan pemukiman yang didasari oleh kelompok kekerabatan. Kedua desa ini, jika ditelaah atas dasar identitas sosial, malah sebenarnya keduanya berasal dari satu suku yang atau etnik yang mendominasi yakni Suku Kaili.
Fenomena seperti inilah yang yang melatar belakanggi penulis sehingga mencoba mengangkat dan menelaah tema ini mengenai koflik antar Desa di Padende-Binangga di Kabupaten Sigi.
B.     Pembahasan
            Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang dikemukakan tersebut diatas maka dapat dirimuskan permasalahn penulis sebagai berikut:
1.      Bagaimana latar belakang terjadinya konflik antara kedua desa (Padende-Binangga)?
2.      Pengaruh apa yang ditimulkan pada masyarakat sekitar ?
3.      Bagaimana cara penyelasaian konflik tersebut ?
C.    Kajian Pustaka
            Konflik berasal dari bahasa latin: Conflictus yang artinya pertentangan dalam mewujudkan atau pelaksanaan beraneka ragam antar dua pihak yang dapat merupakan dua orang bahkan golongan-golongan besar seperti negara. Menurut Harjana “perselisihan, pertentangan, percekcokan merupakan pengalaman hidup yang paling mendasar karena meskipun tidak harus, tetapi mungkin bahkan amat mungkin terjadi. Konflik terjadi manakalah hubungan antara dua orang atau dua kelompok, perbuatan yang satu berlawanan dengan perbuatan yang lain, sehingga salah satu dari mereka saling bertentangan.”[4]
             Konflik merupakan sesuatu yang esensial dari kehidupan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihilangkan dalam komponen kehidupan sosial. Kompleksnya berbagai permasalahan yang terjadi pada masyarakat seoerti kecemburuan sosial, kecemburuan ekonomi, tingginya suhu politik yang mengakibatkan banyaknya kepentingan yang tidak terakomodir, dimana kepentingan itu bertujuan tidak lebih hanya mencari dominasi sebuah kekuasaan.
            Konflik menurut Kusnadi yaitu “segala bentuk interaksi yant bersifat oposisi atau suatu interaksi yang bersifat antagonistis (berlawanan, bertentangan, atau bersebrangan) konflik terjadi karena perbedaan atau posisi sumber daya atau karena disebabkan sistem nilai dan penelitian yang berbeda secara ekstrim”.[5] Sedangkan Konflik menurut Weber “sebuah bentuk hubungan yang didalamnya tindakan dengan sengaja diarahkan untuk melaksanakan kehendak sipelaku sendiri, untuk melawan serangan, berhasil melawan serangan ini adalah melaksanakan kekuasaan, dan dengan mencapai dominasi atau kontrol imperatif”.[6]
            Kemudian Rex baginya konflik adalah “Putusnya ikatan-ikatan hubungan sosial melalui konfrol normatif dan ikatan personal”. Ini bisa dilihat pada masyarakat heterogen. Dimana biasanya ditandai dengan kurang dekatnya hubungan antar orang satu dengan orang atau kelompok yang lainnya. Individu cenderung mencari jalannya sendiri-sendiri. Sedangkan kondisi sumber pemenuhan kebutuhan semakin terbatas sehingga persaingan tidak dapat dihindari, jika proses ini memuat kama konflik akan terjadi pada masyarakat yang bersangkutan.[7]
D.    Metode Penelitian
a.      Lokasi Penelitian
Sesuai dengan judul yang diangkat oleh penulis, maka lokasinya juga berada di Desa Binangga dan Desa Padende Kecamatan Marawola Kebupaten Sigi. Karena jarak dari ibu kota lumayang dekat dan kondisi dilapangan juga mendukung  untuk melakukan penelitian karena saat penulis melakukan tinjauan lapangan, situasi sudah aman dan kondusif.
b.      Unit Analisis
Berdasarkan pendekatan yang digunakan oleh penulis mengacu pada pandangan Marx Maber yang menyatakan bahwa konflik adalah “sebuah bentuk hubungan yang didalamnya tindakan dengan sengaja diarahkan untuk melaksanakan kehendak sipelaku sendiri, untuk melawan serangan, berhasil melawan serangan ini adalah melaksanakan kekuasaan, dan dengan mencapai dominasi atau kontrol imperatif”, seperti yang telah dituliskan diatas.
Penelitian yang bersifat kualitatif, pengambilan sampel tidak dimaksudkan  untuk mewakili populasi yang ada. Oleh karena itu penulis mengunakan metode Purosive Sampling yakni memilih dan menetapkan informan secara acak (informan ditentukan oleh penulis).
c.       Teknik Pengumpulan Data
1.      Penelusuran Kajian Pustaka
Teknik yang satu ini lebih mementingkan pencarian informasi yang sudah ada (sumber tertulis) contohnya mencari informasi dan data dari karya ilmiah, jurnal, koran dan lain sebagainya yang berhubungan dengan objek kajian penulis.
2.      Penelitian Lapangan
-          Observasi
Jenis penelitian ini yakni turun langsung ke lokasi atau obyek yang menjadi kajian penulis dengan melakukan pengamatan yang lebih nyata (turun kelapangan/lokasi kejadian)
-          Wawancara
Dalam hal ini penulis tidak membuat daftar pertanyaan untuk warga yang menjadi sasaran untuk dilakukannya wawancara atau tanya-jawab mengenai kejadian ini. Hal ini lakukan agar kesannya hanya untuk bahan cerita-cerita saja, supaya informan tidak kaku dalam mengeluarkan pendapatnya.
3.      Teknik Analisis Data
-          Reduksi Data
Reduksi data dimaksudkan untuk menyeleksi data dan menyederhanakan data serta mengubahnya data kasar yang ditemukan oleh penulis. Hal ini dapat memfokuskan kita dengan kajian tulisan ini.
-          Penyajian Data
Dalam hal ini untuk menghimpu menghimpun seluruh data yang didapat di lapangan maupun dalan kajian pustaka.
-          Verifikasi Data
Verifikasi data dimaksudkan untuk menyeleksi data dan menyederhanakan data serta mengubahn data kasar yang ditemukan oleh penulis. Hal ini dapat memfokuskan kita dengan kajian tulisan ini. Sehingga dapat menarik suatu kesimpulan.

PEMBAHASAN
            Akar masalah konflik secara umum sering disebabkan oleh faktorperbedaan identitas atau bernuansa SARA. Dan ketidak adilan dalam distribusi sumber daya ekonomi, Politik dan sosial. Paul Cann menyebutkan dua faktor penyebab konflik, pertama kemajemukan horisontal yakni masyarakat majemuk secara kultural seperti suku, bangsa, agama, bahasa, dan ras, dan masyarakat majemuk secara horisontal sosial, dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi. Kedua, kemajemukan vertikal seperti struktural masyarakat yang terpolarasikan menurut pemilikan kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan.[8]
            Hal ini terbukti dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini yang menimpah masyarakat Kabupaten Sigi dan Kecamatan Marawola khususnya dan terkhusus lagi di Desa Padende-Binangga (obyek penelitian penulis). Desa ini termaksud salah satu dari sekian banyak desa yang dilanda konflik. Yang cukup lama meskipun tidak secara kontinyu.
            Oleh berbagai kalangan, termaksud masyarakat Desa Padende-Binannga sendiri tidak perna menyangka sebelumnya bahwa akan terjadi konflik sosial yang tidak berprikemanusiaan.
            Bentrok warga Desa Padende-Binangga di Kabupaten Sigi kembali pecah. Sebanyak 15 rumah dan lapak di Pasar Marawola dibakar massa. Bentrok du duga dipicu aksi orang tak dikenal yang menyerang warga Kecamatan Marawola dengan busur. Kedua kubu pun saling serang mengunakan senjata rakitan Dum-dum, senapan angin, busur panah, dan parang.[9]
            Aparat Kepolisian Resol Donggala kesulitan mengendalikan situasi. Lokasi bentrok tersebar serta kurangnya kedua jumlah petugas. Belasan orang dilaporkan luka. Dalam enam bulan terakhir, tercatattiga kali bentrok terjadi antar kedua desa tersebut. Padahal, sebelumnya kedua kubu sudah menggelaracara ritual adat untuk menyelesaikan bentrok. Agustus lalu, bentrok antar Desa Binangga dan Padende mengakibatkan lima rumah warga di kedua desa dibakar.[10]
            Konflik antar warga ini dimulai pada Sabtu, 3 November 2012 siang sekitar pukul 13.00 Wita. Sekelompok orang tak dikenal yang menumpang angkutan umum melepaskan busur ke warga Binangga. Dari aksi ini, kemudian konflik berkembang menjadi bentrok antarwarga.[11] Bentrok pun terjadi pada Minggu sore, 4 November 2012 antar warga Desa Binangga dan Padende.[12]
            Dalam penyelesaian permasalahan ini sudah kerap kali dilakukan oleh pihak Kepolisian dan Camat Marawola dengan mempertemukan Kepala Desa dari masing-masing pihak. Hal yang paling baik dilakukan untuk meredam pertikaian ini yakni dengan sosialisasi. Dengan cara mempertemukan warga Desa Binangga dan Desa Padende dipertemukan diaula Kantor Camat Marawola untuk dilakukan upaya damai pada hari selasa. Namun demikian, meski konsep penandatanganan belum ada, kedua belah pihak diharapkan untuk menghentikan pertikaian karena tidak mendatangkan keuntungan sama sekali. Sementara itu, Wakil Bupati Sigi Livingstone Sango mengatakan “pertemuan perdamaian yang digelar merupakan kelima kalinya. Ia pun berharap setiap permasalahan disikapi dengan arif dan bijaksana, untuk menghindari bentrok terulang kembali”[13]

PENUTUP
a.      Kesimpulan
            Konflik yang terjadi antara Desa Padende-Binangga telah menimbulkan korban, baik korban jiwa maupun harta benda. Konflik ini telah menimbulkan rasa dendam terutama di kalangan generasi muda. Lambatnya penanganan serta kurangnya kesadaran di hati warga untuk menghentikan pertikaian mengakibatkan konflik antar kedua desa ini berlangsung cukup lama dan hampir setiap tahun terjadi perselisihan, hal ini tentunya sangat  berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat.
            Konflik yang terjadi ini merupakan konflik yang bersifat komunal yakni antarrakyat dengan rakyat. Penyelesaian konflik yang paling baik dan manusiawi adalah mengunakan cara persuasil dengan menggunakan perundingan dan musyawarah guna mencapai titik temu  yang dapat di terimah oleh semua pihak yang bertikai.
            Demikian pulah dengan tingkat kepercayaan terhadap aparat keamanan, karena dianggap tidak adil dalam menangani konflik terbukai iniantar desa Padende-Binangga ini. Banyak aparat yang ditempatkan di daerah konflik, teryata tidak mampu untuk melakukan penertiban konflik itu sendiri. Akan tetapi ikut larut dalam konflik yang tersebut.
b.      Saran
            Dalam menyikapi konflik yang ada disekitar kita hendaknya dihadapi dengan hati yang tulus dan memandang dengan penuh kebijaksanaan setiap permasalahan itu. Hal ini  memang sulit untuk kita lakukan. Maka dari itu haruslah kita melakukannya dengan hati yang dingin merkipun suasana panas. Memang konflik tidak bisa dipisahkan dari manusia sebagai mahkluk yang merakal dan berintelaksi satu salama lain. Dan jangan sampai kita diperbudak oleh napsu kita sendiri demi menuaskan hasrat, seperti yang terjadi di kedua desa yang menjadi tema pulisan ini. Ini hanyalah suatu permasalahan sepelah yang diperbesar-besarkan oleh pihak yang berkepentingan dengan melalukan politik adu domba dan kuasai[14]. Karena hal ini sangat berdampak pada moral dan pendidikan generasi mudah sebagai menerus bangsa. Maka dari itu

DAFTRA PUSTAKA
·         Marzali, A. Kekerasan Sosial di Kalimantan: Sebuah Analisis Antropologi Sosialkultural. Jakarta: Jurnal Csis. 2001.
·         Putri, C.E.K.T. Pemanfaatan Strategi Perkembangan Masyarakat Bagi Penumbuhan Sikap Kesetiakwanan dan Interaksi Sosial Antar Etnis di Indonesia. Jakarta: Jurnal Csis. 2001.
·         Harjana, A, M. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius. 1994.
·         H. Kusnadi, BambangWahyudi. Teori dan Manajemen Konflik. Malang: Caroda. 2001.
·         Dean Pruit Jeffrey Rubin. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2004.
·         Jhon Rex. Analisis Sistem Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara.
·         Mercusuar. Minggu, 4 November 2012.
·         Mercusuar. Senin, 5 November 2012.
·         Mercusuar Rabu, 7 November 2012.
Daftar Informan
·         Nama               : Mesak Teang
Umur               : 43 tahun
Pekerjaan         : Wiraswasta
·         Nama               : Wawan
Umur               : 20 tahun
Pekerjaan         : Sopir Truk



[1] Mahasiswa Pend. Sejarah (stanbuk A 311 11 021) Universitas Tadulako.
[2] Marzali, A. Kekerasan Sosial di Kalimantan: Sebuah Analisis Antropologi Sosialkultural. Jakarta: Jurnal Csis. 2001. Hal-18.
[3] Putri, C.E.K.T. Pemanfaatan Strategi Perkembangan Masyarakat Bagi Penumbuhan Sikap Kesetiakwanan dan Interaksi Sosial Antar Etnis di Indonesia. Jakarta: Jurnal Csis. 2001. Hal-20
[4] Harjana, A, M. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius. 1994. Hal-19.
[5] H. Kusnadi, Bambang Wahyudi. Teori dan Manajemen Konflik. Malang: Caroda. 2001. Hal-11.
[6] Dean Pruit Jeffrey Rubin. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2004. Hal-211.
[7] Jhon Rex. Analisis Sistem Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal-32.
[8] H. Kusnadi, Bambang Wahyudi. Teori dan Manajemen Konflik. Malang: Caroda. 2001. Hal-71.
[9] Mercusuar. Senin, 5 November 2012. Hal-1.
[10] Ibid. Hal-1.
[11] Mercusuar. Minggu, 4 November 2012. Hal-1.
[12] Mercuruar. Senin, 5 November 2012 hal-1.
[13] Mercusuar Rabu, 7 November 2012. Hal 9.
[14] Seperti yang dilakukan oleh kolonialisme Belanda saat menjaja Bangsa kita Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar