Konflik
Sosial
(Sebuah Analisis Sosiologi Terhadap
konflik Sosial
di Desa Padende-Binangga)
Oleh: Muhammad Achail Darwis
ABSTRAK
Konflik Sosial
biasanya diangap suatu hal yang biasa terjadi didalam kehidupan bermasyarakat
khususnya di Kabupaten Sigi. Ini merupakan langgana setiap bulangnya bagi
daerah ini. Padahal dalam kasus ini yang menjadi permasalahan hanyalah hal
sepeleh saja dan konflik ini mengarah pada konflik persaudaraan yang dilihat
dari agama dan bahkan berasal dari Suku yang sama. Tetapi konflik ini cenderung
dibiarkan begitu saja oleh aparat kepolisian bahkan mereka ikut larut dalam
pertikaian ini. Untuk menanggulangi permasalahan yang berlarut-larut ini
hendaknya kita harus duduk bersama untuk membicarakan hal ini demi kesejatraan
bersama-sama.
Kata
Kunci: Konflik sosial.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kondisi
yang tanpa seiring dengan krisis multidimensional di Indonesia, yakni
meningkatnya kejahatan sosial, kerusuhan sosial/kekerasan kolektif antar etnis,
agama, dan kelompok yang sangat mempengaruhi tumbuhnya disentegrasi sosial yang
mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Kompleksitas masalah
sosialyang melanda bangsa Indonesia merupakan ujian dalam tata kehidupan
berbagsa dan bernegara. Konflik sosial yang terjadi merupakan imbas dari
pertentangan elit politik yang masih mencari keseimbangan baru dalam era antara
transisi dan reformasi. Pertentangan pilitik melahirkan kelompok-kelompok
tertentu yang secara politis mengginkan kelenggangan konflik, agar dapat
dijadikan alasan bahwa politik yang tidak dapat menyelesaikan masalah. Dengan
demikian, heterogenitas masyarakat secara sosial kultural sangat potensial
menjadi pemicu terjadinya konflik. Masalah suku, agama, ras, dan antar golongan
(SARA) sangat rentang sifatnya dalam masyarakay sehingga kata toleransi sudah
tidak punya arti lagi karena masing-masing pihak mempertehankan diri
berdasarkan subyektif lokal dan semua komponen masyarakat terlibat secara
total. Konflik yang terjadi dalam suatu masyarakat selalu membawa kesengsaraan
rakyat, mengubah secara total perilaku kehidupan masyarakat. Warga diliputi
kecemasan, antisipasi dalam malakukan denda, dampak lainnya yang ditimbulkan
adalah kerusakan fisik bangunan dan kerugian material.
Tindak kekerasan muncul
karena adanya kondisi yang menghalangi anggota masyarakat untuk mendapatkan
rasa aman dan harapan-harapan mereka. Menurut Seart konflik akan terjadi secara
kolektif dalam masyarakat karena adanya kesenjangan relatif. Kesenjangan
tersebut berkaitan dengan adanya ketidak puasan dalam kelompok obyektif, tetapi
juga perasaan kurang secara subyektif yang lebih besar di banding dengan
kelomok atau orang lain.[2]
Seart juga menjelaskan
bahwa penyebab lain konflik antar kelompok adalah apabila keduanya bersaing
untuk saling memperebutkan sumber daya yang langka. Kedua kelompok tersebut
saling bermusuhan dan menciptakan penilaian negatif yang tidak dapat dielakkan.[3]
Tindakan kekerasan
dilihat dari pihak-pihal yang terlibat pada umumnya berbeda baik etnik maupun
agama atau mereka adalah kaum pribumi pendatang namun demikian, tidak semua
kekerasan (konflik) bersumber dari etnik, agama, atau asal-usul yang berbeda.
Salah satunya antar kelompok sosial yang melibatkan masyarakat Desa
Padende-Binangga di Kabupaten Sigi. Mereka terlibat dalam aksi tersebut tidak
berbeda baik etnik maupun agamanya. Dilihat dari asal-usulnya mereka juga sama.
Kerangka berfikir
diataslah yang mendasari peneliti menulis konflik sosial yang terjadi antara
masyarakat Desa Padende-Binangga di Kabupaten Sigi, sebagai salah satu kabupaten
yang telah mengalami tertumbuhan yang pesat dan telah mendorong terjadinya
pengelompokan pemukiman yang didasari oleh kelompok kekerabatan. Kedua desa
ini, jika ditelaah atas dasar identitas sosial, malah sebenarnya keduanya
berasal dari satu suku yang atau etnik yang mendominasi yakni Suku Kaili.
Fenomena seperti inilah
yang yang melatar belakanggi penulis sehingga mencoba mengangkat dan menelaah
tema ini mengenai koflik antar Desa di Padende-Binangga di Kabupaten Sigi.
B. Pembahasan
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah yang dikemukakan tersebut diatas maka dapat
dirimuskan permasalahn penulis sebagai berikut:
1.
Bagaimana latar belakang terjadinya
konflik antara kedua desa (Padende-Binangga)?
2.
Pengaruh apa yang ditimulkan pada
masyarakat sekitar ?
3.
Bagaimana cara penyelasaian konflik
tersebut ?
C. Kajian Pustaka
Konflik
berasal dari bahasa latin: Conflictus yang artinya pertentangan dalam
mewujudkan atau pelaksanaan beraneka ragam antar dua pihak yang dapat merupakan
dua orang bahkan golongan-golongan besar seperti negara. Menurut Harjana “perselisihan, pertentangan,
percekcokan merupakan pengalaman hidup yang paling mendasar karena meskipun
tidak harus, tetapi mungkin bahkan amat mungkin terjadi. Konflik terjadi
manakalah hubungan antara dua orang atau dua kelompok, perbuatan yang satu
berlawanan dengan perbuatan yang lain, sehingga salah satu dari mereka saling
bertentangan.”[4]
Konflik merupakan sesuatu yang esensial dari
kehidupan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihilangkan dalam komponen kehidupan
sosial. Kompleksnya berbagai permasalahan yang terjadi pada masyarakat seoerti
kecemburuan sosial, kecemburuan ekonomi, tingginya suhu politik yang
mengakibatkan banyaknya kepentingan yang tidak terakomodir, dimana kepentingan
itu bertujuan tidak lebih hanya mencari dominasi sebuah kekuasaan.
Konflik
menurut Kusnadi yaitu “segala bentuk interaksi yant bersifat oposisi atau suatu
interaksi yang bersifat antagonistis (berlawanan, bertentangan, atau
bersebrangan) konflik terjadi karena perbedaan atau posisi sumber daya atau
karena disebabkan sistem nilai dan penelitian yang berbeda secara ekstrim”.[5]
Sedangkan Konflik menurut Weber “sebuah bentuk hubungan yang didalamnya
tindakan dengan sengaja diarahkan untuk melaksanakan kehendak sipelaku sendiri,
untuk melawan serangan, berhasil melawan serangan ini adalah melaksanakan
kekuasaan, dan dengan mencapai dominasi atau kontrol imperatif”.[6]
Kemudian
Rex baginya konflik adalah “Putusnya ikatan-ikatan hubungan sosial melalui
konfrol normatif dan ikatan personal”. Ini bisa dilihat pada masyarakat
heterogen. Dimana biasanya ditandai dengan kurang dekatnya hubungan antar orang
satu dengan orang atau kelompok yang lainnya. Individu cenderung mencari
jalannya sendiri-sendiri. Sedangkan kondisi sumber pemenuhan kebutuhan semakin
terbatas sehingga persaingan tidak dapat dihindari, jika proses ini memuat kama
konflik akan terjadi pada masyarakat yang bersangkutan.[7]
D. Metode Penelitian
a.
Lokasi
Penelitian
Sesuai dengan judul yang diangkat
oleh penulis, maka lokasinya juga berada di Desa Binangga dan Desa Padende
Kecamatan Marawola Kebupaten Sigi. Karena jarak dari ibu kota lumayang dekat
dan kondisi dilapangan juga mendukung
untuk melakukan penelitian karena saat penulis melakukan tinjauan
lapangan, situasi sudah aman dan kondusif.
b.
Unit
Analisis
Berdasarkan pendekatan yang digunakan oleh penulis
mengacu pada pandangan Marx Maber yang menyatakan bahwa konflik adalah “sebuah
bentuk hubungan yang didalamnya tindakan dengan sengaja diarahkan untuk
melaksanakan kehendak sipelaku sendiri, untuk melawan serangan, berhasil
melawan serangan ini adalah melaksanakan kekuasaan, dan dengan mencapai
dominasi atau kontrol imperatif”, seperti yang telah dituliskan diatas.
Penelitian yang bersifat kualitatif, pengambilan
sampel tidak dimaksudkan untuk mewakili
populasi yang ada. Oleh karena itu penulis mengunakan metode Purosive Sampling
yakni memilih dan menetapkan informan secara acak (informan ditentukan oleh
penulis).
c.
Teknik
Pengumpulan Data
1.
Penelusuran
Kajian Pustaka
Teknik yang satu ini lebih
mementingkan pencarian informasi yang sudah ada (sumber tertulis) contohnya
mencari informasi dan data dari karya ilmiah, jurnal, koran dan lain sebagainya
yang berhubungan dengan objek kajian penulis.
2.
Penelitian
Lapangan
-
Observasi
Jenis penelitian ini yakni turun
langsung ke lokasi atau obyek yang menjadi kajian penulis dengan melakukan
pengamatan yang lebih nyata (turun kelapangan/lokasi kejadian)
-
Wawancara
Dalam hal ini penulis tidak membuat
daftar pertanyaan untuk warga yang menjadi sasaran untuk dilakukannya wawancara
atau tanya-jawab mengenai kejadian ini. Hal ini lakukan agar kesannya hanya
untuk bahan cerita-cerita saja, supaya informan tidak kaku dalam mengeluarkan
pendapatnya.
3.
Teknik
Analisis Data
-
Reduksi
Data
Reduksi data dimaksudkan untuk
menyeleksi data dan menyederhanakan data serta mengubahnya data kasar yang
ditemukan oleh penulis. Hal ini dapat memfokuskan kita dengan kajian tulisan
ini.
-
Penyajian
Data
Dalam hal ini untuk menghimpu
menghimpun seluruh data yang didapat di lapangan maupun dalan kajian pustaka.
-
Verifikasi
Data
Verifikasi data dimaksudkan untuk
menyeleksi data dan menyederhanakan data serta mengubahn data kasar yang
ditemukan oleh penulis. Hal ini dapat memfokuskan kita dengan kajian tulisan
ini. Sehingga dapat menarik suatu kesimpulan.
PEMBAHASAN
Akar masalah
konflik secara umum sering disebabkan oleh faktorperbedaan identitas atau
bernuansa SARA. Dan ketidak adilan dalam distribusi sumber daya ekonomi,
Politik dan sosial. Paul Cann menyebutkan dua faktor penyebab konflik, pertama
kemajemukan horisontal yakni masyarakat majemuk secara kultural seperti suku,
bangsa, agama, bahasa, dan ras, dan masyarakat majemuk secara horisontal
sosial, dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi. Kedua, kemajemukan vertikal
seperti struktural masyarakat yang terpolarasikan menurut pemilikan kekayaan,
pengetahuan, dan kekuasaan.[8]
Hal
ini terbukti dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini yang menimpah
masyarakat Kabupaten Sigi dan Kecamatan Marawola khususnya dan terkhusus lagi
di Desa Padende-Binangga (obyek penelitian penulis). Desa ini termaksud salah
satu dari sekian banyak desa yang dilanda konflik. Yang cukup lama meskipun
tidak secara kontinyu.
Oleh
berbagai kalangan, termaksud masyarakat Desa Padende-Binannga sendiri tidak
perna menyangka sebelumnya bahwa akan terjadi konflik sosial yang tidak
berprikemanusiaan.
Bentrok
warga Desa Padende-Binangga di Kabupaten Sigi kembali pecah. Sebanyak 15 rumah
dan lapak di Pasar Marawola dibakar massa. Bentrok du duga dipicu aksi orang
tak dikenal yang menyerang warga Kecamatan Marawola dengan busur. Kedua kubu
pun saling serang mengunakan senjata rakitan Dum-dum, senapan angin, busur
panah, dan parang.[9]
Aparat
Kepolisian Resol Donggala kesulitan mengendalikan situasi. Lokasi bentrok
tersebar serta kurangnya kedua jumlah petugas. Belasan orang dilaporkan luka.
Dalam enam bulan terakhir, tercatattiga kali bentrok terjadi antar kedua desa
tersebut. Padahal, sebelumnya kedua kubu sudah menggelaracara ritual adat untuk
menyelesaikan bentrok. Agustus lalu, bentrok antar Desa Binangga dan Padende
mengakibatkan lima rumah warga di kedua desa dibakar.[10]
Konflik
antar warga ini dimulai pada Sabtu, 3 November 2012 siang sekitar pukul 13.00
Wita. Sekelompok orang tak dikenal yang menumpang angkutan umum melepaskan
busur ke warga Binangga. Dari aksi ini, kemudian konflik berkembang menjadi
bentrok antarwarga.[11]
Bentrok pun terjadi pada Minggu sore, 4 November 2012 antar warga Desa Binangga
dan Padende.[12]
Dalam
penyelesaian permasalahan ini sudah kerap kali dilakukan oleh pihak Kepolisian
dan Camat Marawola dengan mempertemukan Kepala Desa dari masing-masing pihak.
Hal yang paling baik dilakukan untuk meredam pertikaian ini yakni dengan
sosialisasi. Dengan cara mempertemukan warga Desa Binangga dan Desa Padende
dipertemukan diaula Kantor Camat Marawola untuk dilakukan upaya damai pada hari
selasa. Namun demikian, meski konsep penandatanganan belum ada, kedua belah
pihak diharapkan untuk menghentikan pertikaian karena tidak mendatangkan
keuntungan sama sekali. Sementara itu, Wakil Bupati Sigi Livingstone Sango
mengatakan “pertemuan perdamaian yang digelar merupakan kelima kalinya. Ia pun
berharap setiap permasalahan disikapi dengan arif dan bijaksana, untuk
menghindari bentrok terulang kembali”[13]
PENUTUP
a. Kesimpulan
Konflik yang
terjadi antara Desa Padende-Binangga telah menimbulkan korban, baik korban jiwa
maupun harta benda. Konflik ini telah menimbulkan rasa dendam terutama di
kalangan generasi muda. Lambatnya penanganan serta kurangnya kesadaran di hati
warga untuk menghentikan pertikaian mengakibatkan konflik antar kedua desa ini
berlangsung cukup lama dan hampir setiap tahun terjadi perselisihan, hal ini
tentunya sangat berpengaruh terhadap
kehidupan sosial masyarakat.
Konflik
yang terjadi ini merupakan konflik yang bersifat komunal yakni antarrakyat
dengan rakyat. Penyelesaian konflik yang paling baik dan manusiawi adalah
mengunakan cara persuasil dengan menggunakan perundingan dan musyawarah guna
mencapai titik temu yang dapat di
terimah oleh semua pihak yang bertikai.
Demikian
pulah dengan tingkat kepercayaan terhadap aparat keamanan, karena dianggap
tidak adil dalam menangani konflik terbukai iniantar desa Padende-Binangga ini.
Banyak aparat yang ditempatkan di daerah konflik, teryata tidak mampu untuk
melakukan penertiban konflik itu sendiri. Akan tetapi ikut larut dalam konflik
yang tersebut.
b. Saran
Dalam
menyikapi konflik yang ada disekitar kita hendaknya dihadapi dengan hati yang
tulus dan memandang dengan penuh kebijaksanaan setiap permasalahan itu. Hal ini
memang sulit untuk kita lakukan. Maka
dari itu haruslah kita melakukannya dengan hati yang dingin merkipun suasana
panas. Memang konflik tidak bisa dipisahkan dari manusia sebagai mahkluk yang
merakal dan berintelaksi satu salama lain. Dan jangan sampai kita diperbudak
oleh napsu kita sendiri demi menuaskan hasrat, seperti yang terjadi di kedua
desa yang menjadi tema pulisan ini. Ini hanyalah suatu permasalahan sepelah
yang diperbesar-besarkan oleh pihak yang berkepentingan dengan melalukan
politik adu domba dan kuasai[14]. Karena
hal ini sangat berdampak pada moral dan pendidikan generasi mudah sebagai
menerus bangsa. Maka dari itu
DAFTRA
PUSTAKA
·
Marzali, A. Kekerasan Sosial di Kalimantan: Sebuah Analisis Antropologi
Sosialkultural. Jakarta: Jurnal Csis. 2001.
·
Putri, C.E.K.T. Pemanfaatan Strategi Perkembangan Masyarakat Bagi Penumbuhan Sikap
Kesetiakwanan dan Interaksi Sosial Antar Etnis di Indonesia. Jakarta:
Jurnal Csis. 2001.
·
Harjana, A, M. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius. 1994.
·
H. Kusnadi, BambangWahyudi. Teori dan Manajemen Konflik. Malang:
Caroda. 2001.
·
Dean Pruit Jeffrey Rubin. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Belajar. 2004.
·
Jhon Rex. Analisis Sistem Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara.
·
Mercusuar. Minggu, 4 November 2012.
·
Mercusuar. Senin, 5 November 2012.
·
Mercusuar Rabu, 7 November 2012.
Daftar
Informan
·
Nama :
Mesak Teang
Umur : 43 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
·
Nama :
Wawan
Umur : 20 tahun
Pekerjaan : Sopir Truk
[1]
Mahasiswa Pend. Sejarah (stanbuk A 311 11 021) Universitas Tadulako.
[2] Marzali,
A. Kekerasan Sosial di Kalimantan: Sebuah Analisis Antropologi Sosialkultural.
Jakarta: Jurnal Csis. 2001. Hal-18.
[3] Putri,
C.E.K.T. Pemanfaatan Strategi Perkembangan Masyarakat Bagi Penumbuhan Sikap
Kesetiakwanan dan Interaksi Sosial Antar Etnis di Indonesia. Jakarta: Jurnal
Csis. 2001. Hal-20
[4] Harjana,
A, M. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius. 1994. Hal-19.
[5] H.
Kusnadi, Bambang Wahyudi. Teori dan Manajemen Konflik. Malang: Caroda. 2001.
Hal-11.
[6] Dean
Pruit Jeffrey Rubin. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2004.
Hal-211.
[7] Jhon
Rex. Analisis Sistem Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal-32.
[8] H.
Kusnadi, Bambang Wahyudi. Teori dan Manajemen Konflik. Malang: Caroda. 2001.
Hal-71.
[9]
Mercusuar. Senin, 5 November 2012. Hal-1.
[10] Ibid.
Hal-1.
[11]
Mercusuar. Minggu, 4 November 2012. Hal-1.
[12]
Mercuruar. Senin, 5 November 2012 hal-1.
[13]
Mercusuar Rabu, 7 November 2012. Hal 9.
[14] Seperti
yang dilakukan oleh kolonialisme Belanda saat menjaja Bangsa kita Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar