Minggu, 12 Maret 2017

MASUKNYA ISLAM DI POSO: Sebuah Resensi “Buku Sejarah Poso”

MASUKNYA ISLAM DI POSO:
Sebuah Resensi “Buku Sejarah Poso”

Oleh:
Muhammad Achail Darwis

Masuknya Islam di Poso masih merupakan tanda tanya besar bagi masyarakatat Poso sendiri khususnya para ahli sejarah Sulawei Tengah. Namun beberapa data seperti data arsip Belanda, sumber lokal maupun cerita rakyat yang menyatakan bahwa masuknya Islam di Poso dapat dikategorikan dalam tiga fase, 1) fase yang dilakukan oleh para pedagang Islam Bugis, 2) fase yang dilakukan oleh Kesultanan Ternate, dan 3) fase yang dilakukan oleh orang Arab.
Pengenalan ajaran Islam di sepanjang pantai pesisir pantai Tojo dan Una-Una dan Poso Pesisir, didominasi oleh para saudagar yang berasal dari tanah Bugis. Hal ini dapat dibuktikan dari pengaruh Islam Bugis dimana di kalangan masyarakat Tojo dan Una-Una serta Togean Kepulauan, dalam mangajarkan huruf-huruf Al-Qur’an lebih banyak menggunakan ejaan Bugis. Bukti lain didapatkan dalam buku Mededeelingen van Het Bureau Voor de Bestuurzaken der Buitebezettinge,  yang menyebutkan bahwa pengenalan awal tentang agama Islam di Bungku, Mori (Kolonodale), Tojo Una-Una dan Poso Pesisir dilakukan sekitar akhir abad XVI yang dibawa oleh para sudagar yang berasal dari Bugis Bone dengan menggunakan kapal tradisional Phinisi.
Demikian pula, pengalaman Islam di wilayah Pebato (Poso Pesisir) juga dilakukan oleh pedagang-pedagang Bugis yang melakukan pencarian damar dan rotan sekitar wilayah tersebut. Umumnya pedagang-pedagang Bugis dalam melakukan perdagangan dan menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk setempat menggunakan alat transportasi laut sebagai kendaraanya. Penyebaran ajaran Islam di wilayah ini, oleh pedagang-pedagang Bugis tersebut sebagai “peletak dasar” terhadap pengetahuan awal tentang ajaran Islam di wilayah Poso Pesisir (Mapane). Tahap permulaan pengenalan Islam belum terasa pengaruhnya bagi Poso Pesisir, karena orientasi mereka lebih terkonsentrasi pada pencapaian kesuksesan perekonomian. Pengembangan Islam bukan fokus utama mereka.
Pada tahap pertama, saudagar-saudagar Islam Bugis yang berasal dari Bone tidak memperlihatkan usaha-usaha penyebaran Islam secara menyeluruh kepada penduduk, tetapi lebih memilih bersikap dan bertindak sebagai orang muslim tanpa harus mempengaruhi orang lain. Sikap dan perilaku yang diperlihatkan oleh saudagar dan merupakan pendatang, yang tentunya sikap dan tindakannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan penolakan dari para penguasa ataupun dari rakyat setempat.
Fase pertama ini tidak menghasilkan perkembangan Islam yang berarti dan secara kualitatif pemeluk agama Islam sangat sedikit dan bahkan dapat dikatakan perkembangannya sangat lambat. Meski demikian usaha ini dapat dikatakan sebagai “peletak dasar” benih-benih keislaman di sepanjang wilayah pantai Pesisir Poso. penanaman benih-benih keislaman ini merupakan cikal bakal perkembangan Islam nantinya. Perkembangan pada fase ini juga dapat dikatakan sebagai “pondasi awal” dikalangan penduduk setempat sebelum datangnya pengaruh Kesultanan Ternate yang penyebarannya dilakukna oleh Mubalig yang datang dari Ternate.
Sumber lokal dan tradisi lisan masyarakat setempat menjelaskan bahwa Islam masuk di wilayah Poso diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Bugis yang berasal dari Kerajaan Bone sekitar abad XVI. Tetapi, tidak diketahui secara pasti siapa nama pedagang Bugis tersebut yang merupakan pembawa Islam pertama di wilayah Kerajaan Poso Pesisir. Namun yang pasti bahwa pegenalan Islam di wilayah Poso Pesisir dilakukan oleh pedagang-pedagang Bugis Bone. Sedangkan pengenalan Islam di wilayah pedalaman (Vorstelanden) Kerajaan Lore, Bada, dan Napu dilakukan setelah pihak Belanda masuk di wilayah tersebut sekitar abad XX, yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Islam di Sulawesi Selatan. Mereka umumnya berasal dari Bugis, seperti Daeng Mabate, Daeng Malongi, yang berdagang hingga ke wilayah Bada, Daeng Matiro, Daeng Palindungi, Indorila, Ranti (Pua’na Batjo) yang berdagang hingga ke wilayah Besoa, serta Daeng Patatempa dan Pua’na Halima yang melakukan perdagangan ke wilayah Napu.
Nama-nama inilah menjadi peletak dasar ajaran Islam di wilayah pedaman Poso khususnya masyarakat Lembah Lore. Puana Halima berprofesi sebagai seorang pedagang campuran yang mengunakan kuda sebanyak 30 ekor sebagai tunggangan untuk mengangkut barang dagangannya dan disebut sebagai Kuta Pateke. Puana Halima memperkenalkan ajaran Islam tanpa paksaan.
Melihat sikap dan perilaku yang dilakukan oleh pedagang Bugis tersebut. Maka pada tahun 1920 para pedagang Bugis Islam diberi satu desa oleh raja Kado yang letaknya di antara Wasa dan Watumaeta, yaitu desa Popabohua. Desa ini menjadi pusat pedagang-pedagang Bugis yang secara tidak langsung juga melakukan penyebaran Islam di kalangan masyarakat Lembah Lore. Para pedagang tersebut berusaha memperkenalkan ajaran Islam melalui perkawinan. Pada 1920, Ranti kawin dengan seorang wanita Besoa yang bernama Bare, yang pernikahanya mendapat pertentangan dari pihak wanita. Perkewinan tersebut membuktikan bahwa, Bare adalah wanita pertama yang diperkenalkan ajaran-ajaran Islam oleh Puana Batjo (Ranti). Di wilayah Napu, orang yang pertama diperkirakan memeluk agama Islam adalah putri bernama Haya yang kawin dengan pedagang dari Sulawesi Selatan.
Ranti yang melakukan proses islamisasi di wilayah Kerajaan Lore (Napu dan Besoa) dibantu oleh para pedagang lainnya. Islam masuk di wilayah Bada diperkirakan terjadi pada tahun 1920. Upaya para pedagang untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Napu, Bada dan Besoa mengalami hambatan. Hambatan terhadap pengenalan Islam di wilayah tersebut disebabkan masyarakatnya masih memegang teguh keyakinan halaik atau kepercayaan suku mereka, sekalipun  intensitanya makin lama makin menurun. Namun demikian usaha dakwah tetap dilakukan tanpa harus meninggalkan tugas utama mereka sebagai seorang pedagang. Perkembangan Islam di wilayah tersebut mengalami kemajuan ketika keluarga-keluarga Bugis yang berasal dari Duri datang di wilayah tersebut dan melakukan perkawinan dengan penduduk setempat. Walaupun telah tersentuh oleh ajaran Islam, tetapi masih ada pula yang menyakini kepercayaan halaik dengan kata lain terjadi akulturasi antara ajaran Islam dengan kepercayaan setempat di kalangan masyarakat Napu dan Bada.
Fase kedua dalam penyebaran Islam di Poso dipengaruhi oleh Kesultanan Ternate. Pengaruh Kesultanan Ternate di kawasan Indonesia Timur khususnya sepanjang Kerajaan Bungku, Mori, Banggai, Kerajaan Tojo dan Una-una, dan Kepulauan Togean dan di wilayah-wilayah sepanjang pantai Poso Pesisir mulai nampak pada masa pemerintahan Sultan Hairun. Pada 1563 Sultan Hairun bermaksud mengislamkan Sulawesi Utara, Gorontalo, Moutong, Tomini, Tinombo, Sugenti, Kasimbar, Parigi, Sausu, Tojo, Ampana, dan Kepulauan Una-una dan Togean, namun hal tersebut dihambatan oleh tentara Portugis yang mengirimkan seorang missionaris yang bernama Peter Magelhaens. Sultan selanjutnya yaitu Sultan Baabullah yang berkuasa antara 1570-1580, berhasil membangun kekuatan maritim sehingga mampu menguasai wilayah Sulawesi dan Kepulauan Philipina.
Kekuatan militer dan kondisi tersebut tersebut, tampak bahwa penyebaran Islam di Poso merupakan gerak lanjut dari penyebaran Islam di Ternate. Perkembangan berikutnya, kerajaan-kerajaan yang berada dibawah pengaruh kesultanan Ternate meliputi Sasak (Lombok) Mena (Timor), Mawojang (Ende), Kajeli, Donggala, Mandar, Pesisir Utara dan Pesisir Pantai Timur Sulawesi (Moutong, Kasimbar, Parigi, Sausu) Poso Pesisir, Ampana, Una-una, Kepulauan Togean, Buton, Kepulauan Muna, Kepulauan Sangihe, Minahasa, Sabah, Mindanao, Kelu, Zamboanga, dan seluruh Kepulauan Maluku. Penyebaran Islam di kawasan tersebut dapat dibuktikan dari keterangan J.C. van Leur, bahwa daerah-daerah terjauh dan terdekat sebagian besar telah diislamkan. Faktor keberhasilan itu ditunjang oleh Kesultanaan Ternate yang didukung oleh kekuatan maritim dan kemampuan ekonomi dari hasil perdagangan rempah.
Daerah-daerah kerajaan di bawah pengaruh Kesultanan Ternate berkewajiban membayar uperti sebagai bentuk persembahan kepada raja yang memerintah pada saat itu. Pengaruh Kesultanan Ternate di kawasan Indonesia Timur ini meluas ke sepanjang pesisir Pantai Poso, sebagai daerah jalur lalu lintas para pelaut dan pedagang Islam.
Sebelum Islam masuk di Poso (kabupaten Poso sekarang), terlebih dahulu bermula dari Kerajaan Bungku sekitar pertengahan Abad XVI. Tokoh penyebar Islam pertama di Bungku yang berasal dari Kesultanan Ternate adalah Syekh Maulana atau yang lebih dikenal dengan Datu Maulana Bajo Johar. Proses penyebaran Islam oleh Syekh Maulana dilakukan pada masa pemerintaha raja Bungku pertama yaitu Marhum Sangia Kinabuku. Kerajaan Bungku memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Ternate karena mempunyai jalur lalu lintas perdagangan regional sehingga memiliki keterkaitan dengan dunia perdagangan ternaksud perkenalan dan sosialisasi Islam sebagai Agama Kerajaan Bungku. Hasil penelitian Widjono Wasis menunjukkan bahwa Islam masuk di wilayah Palu, Poso, Tojo Una-Una sekitar tahun 1680 M.
Proses penyebaran Islam di wilayah Kerajaan Bungku selanjutnya dilakukan oleh Kasili. Kasili adalah seorang pedagang rotan dan damar yang berasal dari ternate dan juga sebagai mubalig. Kasili memiliki badan yang tinggi besar, pemimpin perang, memiliki janggut yangpanjang dan suka memakai topi (songko) turki (songko turki). Penyebaran Islam yang dilakukan oleh beliau mubalig lokal yang ada di Bungku yang memiliki kecakaapan dalam menggunakan bahasa Arab, dan mampu meyakinkan masyarakat.
Raja-raja Bungku yang pernah diperkenalkan dengan ajaran Islam oleh Kasili adalah Abdul Wahab yang meninggal di Mekkah, Ahmad Haji, dan Abd Razak. Penyebaran Islam di wilayah Bungku juga dibantu oleh beberapa orang Kadi yang ada di Kolonodale, dan yang paling terkenal adalah Puang Nusu dari Balanipa Sulawesi Selatan.
Selain itu penyebaran Islam di Kerajaan Bungku juga dibantu oleh beberapa imam lokal, diantaranya adalah Malane yang menyebaran Islam hingga ke wilayah Kolonodale: Imam H. Muh. Hamid yang dikenal dengan nama Imam Kantoba, yang penyebarannya hingga ke wilayah Salabangka dan suku-suku lainnya termaksud suku Bajoe, dan Imam H. Muh. Alauddin.
Sedangkan Islam diwilayah Poso yakni di Posos Pesisir dibawa oleh pedagang Bugis yang bernama Baso Ali dan oleh orang Arab dikenal dengan panggilan Toean Sayyid. Menurut kisah rakyat diceritakan bahwa Baso Ali merupakan seorang pedagang Bugis yang sangat berani masuk ke wilayah Poso Pesisir, karena wilayah ini jarang didatangi oleh pendatang untuk melakukan perdagangan. Hal ini disebabkan karena orang-orang To-Pebato merupakan suku yang suka berperang, bahkan Albert Christian Kryut mengungkapkan bahwa To-Pebato merupakan suku yang suka melakukan pemotongan kepala (topongayo).
Penuturan lain menceritakan bahwa Baso Ali, sebagai seorang pedagang yang menganut ajaran Islam, suka melakukan perjalanan. Perjalanan Baso Ali tentunya untuk melakukan perdagangan dan penyebaran Islam, beliau melukan perjalanan dari Poso Pesisir ke Palu hingga ke Kulawi dan disana ia kawin dengan wanita yang ada di Kulawi.  Kemudian beliau melakukan perdagangan di wilayah Besoa hingga ke Bada. Dan disana ia melakukan perkawinan dengan seorang wanita pribumi di wilayah Besoa. Setelah menetap di Besoa akhirnya beliau kembali ke Mapane. Keturunan dari Baso Ali yang berasal dari Palu dikenal dengan nama Dumia, keturunan dari Kulawi dikenal dengan nama Lapadua’e, sedangkan dari Besoa disebut dengan Adjo Bolo.
Masjid yang tertua di wilayah Mapane adalah masjid Nunu yang dibangun tahun 1930 dan pemborongnya adalah seorang Cina yang bernama A Tek. Kayu yang digunakan dalam pembangunan mesjid tersebut adalah kayu jenis cempaka, kayu besi dan seng merk Apollo. Proses islamisasi di wilayah Mapane dibantu oleh para imam-imam mesjid itu antara lain: Guru Manan, Nuhu, Muh. Sado Lawira. Karim Lawira, Abd. Pakusu Basatu, Islam Labatjo dan Abd. Razak.
Tidak ada uraian jelas yang dikemukakan oleh Albert Christian Kruyt, N. Adriani, Wolter Kaudrn, J. Esser maupun dalam cerita-cerita rakyat bahkan dalam oral history tentang tahun berapa masuknya Islam di wilayah Poso, namun yang pasti bahwa Islam masuk di Poso sejak pertengahan abad XVII yang dibawa oleh pedagang-pedagang yang berasal dari Bugis.
Melalui suatu ukuran waktu yang panjang kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Bungku, Tojo, Una-Una, Pamona, Mori dan pedalaman Poso (Napu, Besoa, serta Bada) telah menerima pengaruh Islam dari dua jurusan yaitu: pertama agama Islam dari selatan, yaitu para pedagang-pedagang Bugis, meskipun para pedagang itu tidak memperhatikan kualitas dan kauntitas peneluk Islam karena perhatian mereka adalah berdagang. Kedua, dari Timur yaitu Kesultanan Ternate, yang dibawa oleh para mubalig dari Ternate seperti Syekh Maulana dan Kasili di Kerajaan Bungku dan Baso Ali di Poso Pesisir yang memperkenalkan Islam tanpa paksaan.
Ada dua aliran agama Islam masuk di wilayah Poso yaitu aliran yang dibawa oleh para saudagar yang berasal dari Bugis maupun Mandar dengan menggunakan aliran yang bersifat fleksibel. Aliran semacam ini lebih dikenal dengan istilah Islam Tua. Perkembangan Islam Tua tidak terlalu memperdulikan jumlah pemeluknya, dan umumnya lebih banyak disebarkan kepada masyarakat awam dengan hubungan pribadi tanpa unsur paksaan, dan dilingkungan keluarga. Perkembangan ini menyebabkan penyebaran Islam bersifat statis.
Pada pertengahan abad XVII masuklah pengaruh Islam dari jalur timur yaitu dari Kesultanan Ternate yang dibawa oleh mubalig-mubalig yang menyebar ke seluruh wilayah Poso. Penyebaran Islam di Poso yang dibawa oleh mubalig yang berasal dari Ternate ini dikenal dengan istilah agama Islam Muda. Disebut Islam Muda kerana untuk membedakan dengan Islam Tua, dan untuk menbedakan jenjang waktu masuknya Islam di wilayah ini.  Agama Islam muda ini lebih mementukngkan kualitas dan jumlah pemeluknya dan Islam Muda mampu mempertahankan ajaran Islam murni di tempat penyebarannya sehingga unsur-unsur kepercayaan lokal tidak lagi dominan.
Usaha Penyebaran Islam mendapat keberhasil yang besar. Sebab usaha yang ditempuh oleh para mubalig yang berasal dari pedagang-pedagang Bugis maupun para mubalig yang berasal dari Ternate mampu melakukan tindakan persuasif terhadap raja-raja yang ada di Pesisir Poso. Setelah memeluk Islam umumnya mereka berganti nama yang Islami, walaupun para raja tersebut masih menganut Islam sinkretis. Penyebaran agama Islam di Poso oleh para saudagar Bugis tidak dilakukan secara tuntas dikalangan masyarakat biasa, sehingga ajaran Islam tidak berurat akar di dalam masyarakat dan bercampur dengan kepercayaan lokal (sinkretisme), dan bahkan mengalami proses mitologisasi.
Suatu keunikan yang dimiliki daerah Poso oleh para saudagar merupakan jalur lintasan perdagangan di Nusantara adalah bahwa sebelum adanya pengaruh Portugis, di wilayah tersebut telah terjadi aktivitas perdagangan dan pelayaran dan navigasi tradisional dan telah melakukan integrasi regional dan internasional perdagangan antar pulau. Hal ini berkaitan dengan sifat dan sikap para pedangang dan pelayar yang cenderung mengembara mencari daerah pasaran dan daerah produksi komoditi. Hubungan politikpun tercipta berkat adanya jalinan perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan pelayar tersebut. Interaksi antara masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi memungkinkan terbentuknya komunitas-komunitas baru Islam dimanapun mereka singgah. A.B. Lapian mengemukakan bahwa terdapat beberapa indikator yang menunjukkan sudah sejak lama ada interaksi pelbagai sistem kelautan yang ada di Nusantara.
Jika dicermati tampak bahwa proses Islamisasi yang ada di wilayah Poso memberikan suatu kesan bahwa pengaruh dari luar lebih dominan dalam pengislaman wilayah tersebut. Namun demikian, dari beberapa sumber arsip Belanda maupun sumber-sumber lokal lainnya juga terlihat bahwa penduduk sepanjang wilayah tersebut dengan pengetahuan navigasi maritim tradisional mampu mengarungi lautan sampai Gorontalo, Ternate, Minahasa, bahkan sampai ke Jawa, dan karenanya ini memberikan gambaran bahwa penduduk pribumi juga memiliki andil dalam penyebaran Islam di wilayah Poso. Hal ini dapat dibuktikan pula dengan tampilnya para tokoh-tokoh pribumi seperti Marodong, Malane, H. Muh. Alauddin, H. Muh. Hamid yang dikenal dengan nama Kantoba, di kerajaan Bungku, Guru Manan, Imam Nuhu, Muh Sado Lawira, Karim Lawira, Abd Pakusu Basatu, Islam Labatjo, Abd. Razak yang kesemuanya berasal dari wilayah kerjaan Poso Pesisir. Demikian pula wilayah Kerajaan Tojo, seperti Imam Bunai, Pabemba, Lengke Mawo, dan Mangge Noho.
Kajian Ricklefs pada umumnya proses islamisasi berlangsung dalam dua tahap. Pertama, penduduk berhubungan dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing seperti Arab, India, Cina dan lainnya yang menganut agama Islam tinggal secara permanen di suatu tempat, selanjutnya melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa, namun sebenarnya mereka itu sudah memeluk Islam.
Tetapi data dan informasi di lapangan tentang masuknya Islam di Poso teryata berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan kurang informatifnya bahan-bahan sejarah yang autentik dan terlalu jauhnya rentang waktu masuknya Islam di wilayah tersebut.
Pada prinsipnya kedatangan Islam di wilayah Poso memiliki beberapa motif yaitu: 1) motif ekonomi, 2) motif penerimaan yang didorong agama, dan 3) motif pengembangan atau yang dorong oleh politik.
Motif ekonomi pada umumnya di lakukan oleh para saudagar-saudagar yang berasal dari Selatan yaitu Bugis. Pola mereka dalam memperkenalkan ajaran Islam tersebut lebih bersifat individu dan tidak mementingkan jumlah penganutnya. Namun tidak bisa disangkal bahwa mereka inilah yang membawa benih-benih ajaran keislaman di wilayah Poso. Tetapi pada periode ini penerimaan Islam di wilayah Poso tidak bersifat pasif. Karena munculnya para Imam lokal, seperti telah disebutkan di atas, sangat membantu perkembangan dan penyebaran Islam di sepanjang pantai Teluk Tolo dan Teluk Tomini.
Kemungkinan setelah periode penerimaan, dengan dorongan motif agama, telah dibangun mesjid atau langgar sebagai pusat kegiatan masyaraakat Islam. Hal ini sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendirikan mesjid atau langgar dimanapun di kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam. Hal ini yang perlu kita pertanyakan adalah sejak kapan mesjid pertama kali didirikan dan di wilayah mana pertama kali dibangun. Tidak ada suatu catatan yang pasti, namun yang jelas bahwa pendirian mesjid di wilayah Poso sejak lama sudah ada, bahkan di Kerajaan Bungku terdapat Mesjid Tua yang diperkirakan setua kerajaan Bungku itu sendiri dan merupakan salah satu mesjid tertua di Sulawesi Tengah.
Fase perkembangan penyebaran Islam pada tahap yang dilakukan oleh orang-orang Arab intensitasnya terjadi sekitar jauh sebelum abad XX. Peranan orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di tanah air cukup besar. Proses penyebaran Islam di wilayah Poso yang dilakukan oleh orang Arab dilakukan secara terorganisir. Hal ini dibuktikan dengan datangnya Al’alimul Allamah Albahrul Fahharabbiqny Alhaj Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie yang berasal dari Palu. Masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya dan Poso pada khususnya menyebut dengan panggilan Guru Tua atau lebih akrab Ustad Tua.
Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie ketika berusia muda telah menunaikan ibadah Haji bersama ayahnya. Pada tahun 1914 untuk pertama kalinya beliau melakukan kunjungna ke Indonesia dalam rangka kunjungna keluarga di Pulau Jawa dan Sulawesi.
Sejak “peristiwa Aden” meletus di hadratulmaut, Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie meninggalkan tanah tercintanya untuk selama-lamanya dan hijriah ke Indonesia. Ia menjadi seorang mubalig dan saudagar di Batavia, Solo, Jombang, dan terakhir di Pekalongan. Kemudian ia hijrah ke Makassar, Maros, Donggala, dan Manado.
Pada 1929 Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Wani, kedatangan beliau atas ajakan masyarakat Arab melalui saudaranya, Syeh Aldjufrie di Manado. Kedatangan Guru Tua di Wani oleh masyarakat diupayakan untuk mempercepat pembukaan madrasah. Agar Ustad Tua mau lebih lama tinggal di Wani, maka Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie dijodohkan dengan seorang wanita keturunan Arab Wani, Syarifah Kalsum bin zen Almahdany. Pembukaan madrasah di Wani ternyata tidak diizinkan oleh Belanda, sehingga madrasah tersebut dialihkan ke Palu. Pada tahun yang sama Ustad Tua melakukan pendekatan terhadap raja Parigi, Moutong, Poso, dan Tojo serta kepala penghulu agama. Pada periode ini pula Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie, melakukan pendekatan kepada masyarakat Pagiri, Poso, Ampana, Luwuk, Banggai, Tinombo, Gorontalo, Manado, dan wilayah Ternate, dan juga daerah Kalimantan serta pulau Jawa.
Pendekatan melalui para raja dan kepala pemerintahan setempat membantu proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh Ustad Tua. Itulah sebabnya masyarakat Poso banyak mendukung dan mengikuti program yang dicanangkan oleh Ustad Tua. Disamping penyebaran Islam di kalangan masyarakat Poso, Ustad Tua juga melakukan pencarian dama dalam rangka pembangunan gedung Al-Khairaat pada tahun 1930.
Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie di wilayah Poso dan sekitarnya membawa dampak terhadap perkembangan Islam. Namun demikian pada tahun 1942, pihak kolonial menghukum Ustad Abdussamad, kepala Madrasah Cabang Dondo-Ampana bersama 5 kawannya, dan dibuang ke laut antara Tojo dan Poso di perairan teluk Tomini.
Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie mengembangkan faham aliran ahli sunnah waljamah yang biasa juga disebut dengan aliran Asy’ariyah, sedangkan mazhabnya adalah Syafi’iyah. Pembukaan Madrasah Al-Khaeraat oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie merupakan kesempatan untuk menimbah ilmu pengetahuan agama. Murid-murid dalam Madrasah pada tahun 1950-an ini berasal dari daerah yang ada di Sulawesi Tengah tanpa terkecuali dari daerah Poso yang diantaranya: H.A. Badjeber, Mahfud Badjeber, Jabo S., Abd. Gani (Poso), dan Sahel Adu.


Atas perintah dan petunjuk dari Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie, pengembang ajaran Islam yanga ada di Bungku dipercayakan kepada Hasjim pada tahun 1940. Kemudian pada tahun 1941 dibuka Madrasah Al-khaeraat wilayah Poso Kota dan desa Ngawia yang dipimpin langsung oleh Nawawian Abdullah dan Nur Hasan.

2 komentar:

  1. Terimakasih telah menulis masuknya Islam di Poso, sangat bermanfaat buat tambahan literatur siswa terutama dalam pembelajaran sejarah peminatan terutama sebagai muatan lokal

    BalasHapus