Orang Kaya Yang Terasingkan
oleh:
Muhammad
Achail Darwis
Dalam
penulisan sejarah kota Palu seperti karya Masyhuddin Masyhuda “Catatan Krisis Palu Meniti Zaman”, Haliadi Sadi yang berjudul “Nosarara Nosabatutu (Bersaudara dan Bersatu)”,
dan Neni Muhidin “Palu Dititik Nol”, yang
membahas Kota Palu dari prespektif Sejarah Kota. Tetapi, ketiga buku tersebut
tidak menyentuh atau menyebutkan sekalipun nama Vatutela[1].
tulisan ini bermaksud mengungkap dan mengobrak-abrik sisi positif dan negative
dari daerah ini, yang dari penulisan kota Palu tidak tersentuh sama sekali
padahal berada dalam daerah administratif Kota palu. Apalagi dalam penulisan
yang memfokuskan diri pada individu-individu yang berpengaruh di sector ekonomi
(orang kaya) masih lemah. Terutama yang tinggal di kota-kota besar maupun di
kota kecil. Padahal keberadaan orang kaya dapat mempegaruhi keberadaan wilayah
tempat tinggalnya.[2]
Dalam system ekonomi dikenal system saving.
Artinya ketika ada masyarakat Vatutela membutuhkan uang, tanah merupakan
pikiran utama untuk dijual. Otomatis yang membutuhkan uang itu menjual tanah
milik mereka dengan harga yang relatif murah. Tidak hanya itu, untuk mengisih
waktu laung orang kaya di daerah ini beternak dan sebagai Pekerja Negeri Sipil
dan bahkan sampai keluar daerah. Setelah mendapat penghidupan di luar, barulah
kembali ke daerah asal mereka. Keadaan inilah yang menciptakan orang kaya di
Vatutela sebagai wujud perkembangan daerahnya.
Nama
Vatutela sendiri memiliki dua versi, (1) masyarakat awal Vatutela dulunya
mengunakan Batu Putih untuk membuat api. Yang menurut bahasa Vatu: artinya Batu sedangkan Tela: artinya Percikan Api, berarti Vatutela adalah batu yang dapat menghasilkan percikan api.[3] Dan
persi yang kedua (2) bahwa nama Vatutela
adalah nama orang dahulu yang di tuakan di daerah tersebut.[4] Wilayah
Vatutela awalnya berupa gunun yang gundul, tidak ada kayu. Nanti setelah tahun
1978-1979 dilakukan penghijauan. Tanaman yang ditaman adalah pada waktu itu
berupa tanaman Akasia dan rumput.[5]
Masyarakat
Vatutela atau to vatutela adalah
komunitas masyarakat adat yang mendiami dusun kecil di Kelurahan Tondo
Kecamatan Mantikulore. Suku yang mendiami wilayah ini ialah suku Kaili yang
berbahasa Tara. Luas wilayah ngata
vatutela seluas 3.525 ha. Masyarakatnya hidup sebagai petani, kebun, peternak,
buruh, dan Pegawai Negeri Sipil. Daerah
ini terletak di kaki gunung dengan batas wilayah: Sebelah utara berbatasan
langsung dengan Gunung Bulubionga, Sebelah timur berbatasan dengan Gunung Jambuk,
Sebelah utara berbatasan dengan Gunung Saluwou, sedangkan Sebelah barat
berbatasan langsung dengan BTN Bumi Roviga. Ekonomi masyarakat Vatutela tidak
terlepas dari perkembangan ekonomi masyarakatnya. Masyarakat Vatutela merupakan
masyarakat adat sebagai suatu ketentuan sekaligus sebagai kedaulatan meskipun
berada di daerah administratif kota Palu. Meskipun aturan ini terikat dengan
adat tapi pola ini juga dapat menyebabkan timbulya perekonomian baru. Hal ini dapat dilihat sebelum munculnya mata pencaharian
di bidang perernakan.
Sejarah ekonomi di Vatutela sangat
berdeda kondisinya dengan kawasan lain di daerah Palu. Pasalnya, sentuhan
ekonomi modern baru dirasakan setelah LSM Merah Putih menjadikan Vatutela
sebagai wilayah binaanya. Sejarah
ekonomi Vatutela, berawal dari ladang berpindah, kemudian perkebunan tanaman
produksi, buruh/jasa, dan pedagang, serta sebagai Pekerja Negeri Sipil. Pola
perekonomian ini berjalan dalam kurung waktu yang relatif cukup lama. Ladang
biasanya ditamani rempah-rempah (kemiri dan cengkeh). Menurut Haris bahwa,
jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan oleh penduduk di Vatutela ini yakni,
kemiri dan cengkeh.[6]
Tapi,
sebahagian masyarakat kini memilih meninggalkan profesi bertani dan beternak.
Dengan kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit, serta ketersediaan air bersih
yang semakin menipis, orang Vatutela harus mulai memikirkan masa
depannya. Saat ini, kaum laki-lakinya banyak yang bekerja di sektor
informal perkotaan. Seperti menjadi buruh bangunan, tukang ojek dan buruh pabrik.
Setelah tambang emas Poboya digerakkan secara massal, sebahagian laki-laki ikut
pula sebagai penambang.
Kaum
perempuan, sebahagian besar menjadi pekerja di pabrik-pabrik, di wilayah Tondo
dan Mamboro. Salah satu pemandangan unik ketika berkunjung ke Vatutela kita
akan susah bertemu kaum perempuan di siang hari. Mereka, selain ke ladang untuk
bertani dan beternak, juga berada di pusat-pusat industri di kota palu. Dengan
harus rela meninggalkan anak-anak dan suami. Sore hari, kaum perempuannya dapat
kita saksikan berduyun-duyun pulang dari pusat perindustrian. Dan juga sebagai
PNS. Lambat laung munculah orang kaya di daerah ini.
Penjelasan
diatas dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengkaji orang kaya di Vatutela.
Munculnya sumber ekonomi baru setelah masuknya LSM Merah Putih di daerah ini,
terlebih lagi setelah dikeluarkanya SK No: 461 / KPTS-II/1995 tertanggal 4 September
1995, untuk menetapkan satu kawasan konservasi seluas 8.100 ha, dengan sebutan
Taman Hutan Raya (TAHURA) Palu.[7]
Membelah dua wilayah administrasi pemerintahan, kota Palu dan Kabupaten Sigi.
Tahura, sebagai kawasan konservasi, memiliki batasan dan larangan yang tak
boleh dilanggar siapapun. Termasuk, larangan memasuki kawasan itu selain tujuan
penelitian, pendidikan dan rekreasi serta wisata alam.
Kehadiran
TAHURA menyebabkan ruang kelola orang Vatutela semakin menyempit dan terbatas.
Karena, kawasan tahura hanya berjarak ½ km dari perkampungan dan ruang kelola
masyarakat. Termasuk, salah satu sumber mata air yang masih dapat diandalkan
orang Vatutela, terletak dalam kawasan tahura. Oleh sebab itu, kehadiran tahura
dengan berbagai pembatasannya menambah kesulitan hidup to vatutela. Termasuk untuk pemenuhan suplai air ke perkampungan.
Dua
tahun berselang, Presiden memberikan izin kontrak karya kepada Rio Tinto melalui
anak perusahaannya bernama Cipta Palu Mineral (CPM). Dengan surat keputusan
Presiden No. B-143/pres/3/1997, untuk pertambangan emas, dengan luas
konsesi 561.050 hektar di Sulawesi Tengah. Untuk wilayah palu, dinamakan
blok Poboya-Palu, dengan luas areal mencapai 37.020 ha. Sebahagian dari blok
Poboya-Palu mencakup wilayah Vatutela dan sekitarnya.[8]
Perubahan Ekonomi Masyarakat
Jalan
hidup setiap orang memang sulit tebak. Bahkan untuk meraih kehidupan yang lebih
baik dengan peningkatan pendapatan, dia harus melewati aneka macam tantangan
dan rintangan.[9] Perubahan
status ekonomi dalam kehidupan masyarakat Vatutela menurut Ebid “ jangan
menilai orang yang ada di Vatutela ini dari apa yang dilihat seperti rumah, dan
gaya sebab semua itu dapat menipu. Ada yang mempunyai rumah yang mewah namun
belum tentu itu dari penghasilan mereka, dan sebaliknya ada rumah yang
menyerupai gubuk namun penghasilanya mungkin tidak seperti apa yang kelihatan”.[10]
Hal ini berarti mereka mempunyai kisah menarik seputar perjalanan hidup sebagai
masyarakat Vatutela yang cendrung terabaikan.
Husen: Hidup Dari Keberagaman Individu
Husen
adalah peduduk Vatutela yang menopang hidup keluarganya dari berbagai usaha
yang dilakoninya. Lelaki yang lahir ditahun 1956 di Vatutela, anak ke empat (4)
dari sembilang bersaudara (9) yang berasal dari suku bugis (bapak), dan kaili
tara (ibu). Husen memilih Jona sebagai pasagan hidupnya di tahun 1975. Dan
sampai sekarang belum diruniai buah hati. Feri yang merupakan anak angkat dari
keluarga ibu. Beliau hanya menempu pendidikan sampai Sekolah Dasar di SD inti
tondo dan tamat di tahun 1975. Alasan
kenapa beliau tidak melanjutkan pendidikan, disebabkan orang tua (bapak) beliau
meninggal dunia serta alasan keuangan. Setelah tamat SD, Husen menikahi Jona di
tahun yang sama. Beliau tidak putus asah menghadapi kerasnya hidup ini.
Lulusan
Sekolah Dasar ini, pernah melakukan ekspedisi Sulawesi untuk menghidupi
keluarganya. Diantaranya di tahun 1975 ditahun dia menikah, berangkat dari Palu
menuju Luwuk segagai kernek truk angkutan barang. Barang yang di bawah dari Luwuk
langsung didistribusikan ke daerah Morowali (Bungku). Dan ditahun yang sama Husen
juga melakukan ekspedisi[11]
ke Gorontalo dan Manado dengan mendistribusikan barang yang sama, yakni barang
campuran. Beliau diberikan kepercayaan oleh orang Cina yang ada di Luwuk pada
waktu itu. Dan pernah juga bekerja untuk orang Arab yang ada di Luwuk.
Karena
ketukunan dan kerja kerasnya, pada tahun 1982 Husen diberi kepercayaan oleh atasanya
untuk tidak lagi menjadi kernek[12],
beliau diberi sebuah truk sendiri untuk dijalankannya. Sebagai manusia biasa
Husen tidak bisa terus-menerus meninggalkan keluarganya apalagi seorang isrti
yang dinikahinya tidak pernah mendapat kasih sayang yang penuh dari suami
tercintah. Dengan musyawarah kecil-kecilan oleh keluarga, akhirnya pada tahun
1984 Husen memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai supir truk (ekspedisi[13]).
Sebagai
keluarga yang dibesarkan di Vatutela yang mayoritas penduduk menggantungkan
hidupnya dengan berkebun. Setelah beberapa tahun lamanya yakni di tahun 1995,
dengan pikiran yang jerni Husen membeli kebun kemiri dan cengkeh sebagai usaha
awalnya setelah dia meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai supir truk. Hal
ini dilakukannya karena melihat kondisi masyarakat yang krisis akan air bersih.
Dan banyak warga Vatutela sendiri menjual tanah mereka. Dari usaha awalnya itu
sebagai petani kemiri dan cengkeh menurut penuturan belian:
“Kalau ingin mengandalkan penghasilan dari kemiri dan cengkeh
kitatidak bisa hidup, sebab kebutuhan ekonomi waktu itu bisa dibilang sangat
tinggi di tambah lagi harga kemiri dan cengkeh tergolong tidak menentu.
Begitupun juga dengan hidup sehari-hari kita tidah harus tinggal diam menunggu
hasil. Dan kita tidak hanya ingin makan untuk satu hari itu saja. Kita pun juga
harus berfikir untuk ke depannya”.[14]
Dari
situlah Husen mendapat inspirasi baru untuk menambah usahanya. 1) usaha ternak
kambing, usaha ini diserahkan kepada keluarga untuk di kelolah, hasilnya pun
dibagi rata. Namun dalam pembagian hasil ini bukan uang yang diperioritaskan
tapi hasil dari kambing itu sendiri (anak kambing). 2) jual beli motor. Karena
begitu sulit dan membutuhkan keahlian khusus dalam menjalankan usaha ini,
beliau memutuskan untuk menjalankannya sendiri. Dan 3) pedagang sapi, dan
kambing. Dari beberapa usaha yang dilakukanya, beliau memproritaskan diri
diusaha ini. Sebab keuntungan dari dagang sapi, dan kambing ini tergolong
mengiurkan. Dari keuntungan sapi saja beliau bisa mendapatkan mininal Rp
1.000.000,- per ekornya. Dan kadang dalam satu hari itu bisa mendapat
keuntungan sampai Rp 3.000.000,-. Begitupun dengan kambing, yang keuntungannya
bisa mencapai Rp 500.000,- per ekornya. Serta 4) jual beli tanah.
Dengan
berbagai usaha yang dirintisnya tidak menjadikan beliau sombong akan hal itu.
Terutama dalam usaha bertani kemiri, cengkeh, ternak sapi, dan kambing. Karena
dengan itu beliau dapat menciptakan lapangang kerja bagi masyarakat Vatutela.
Dan dari usahanya itu, dengan hati yang tulus hampir semua karyawan (pekerjanya
baik itu dibidang perkebunan maupun peternakan) di belikanya kendaraan roda
dua. Inilah sebab kenapa beliau sangat di hormati di Vatutela khususnya di RT
1. Husen merubah nasibnya bukan karena dirinya semata tapi adanya usaha orang
lain pula.
Asrul : Berjuang Untuk Masyarakat
Tayo Dea (Banyak kuburan) merupakan
kampung kecil di Vatutela yang berada di RT 2. kampung kecil ini berbatasan
langsung dengan Pelava (kampung kecil
di Vatutela yang sekarang dikenal RT 3 dan RT 4). Asrul, lahir di Tondo pada
tanggal 2 Maret 1973. anak ketiga dari 9 (sembilang) bersaudara. Asrul menempu
pendidikanya di SD inti Tondo, setelah lulus di tahun 1987 beliau melanjutkan
sekolahnya di salah satu cabang pendidikan Al-khiraat di Tondo yakni SMP Al-khairaat
dan lulus di tahun 1990. Tidak puas akan hal itu tahun 1991 Asrul mendaftarkan
diri di SMK 4 Palu dan lulus dengan hasil yang memuaskan di tahun 1994.
Satu
tahun bersalam, meskipun Asrul masih lulusan Sekolah Menengah Atas, beliau
dipercaya untuk menjadi tenaga honorer di SMK 5 Palu. dan mengabdi selama tujuh
(7 tahun). dalam menunaikan tugasnya sabagai tenaga honorer selama 2 tahun,
selama itu pula pacaran dengan pasangan hidupnya sekarang ini. Febrianyah yang
lahir tanggal 19 Februari 1998 merupakan buah hasil pernikahanya di tahun 1997.
Sebagai
keluarga yang dilahirkan dari keluarga yang bercukupan, Asrul tidak hanya
tinggal diam meratapi nasibnya. dan tidak hanya mengandalkan hasil perkebunan
(kemiri) merkipun luas tahan yang di tumbuhi kemiri cukup luas. hati yang tulus
dan kerja keras dalam lingkunganya, masyarakat memandangnya sebagai orang yang
pantas dijadikan panutan. Hal diataslah yang menjadikan Asrul ditunjuk sebagai
ketua RT-1 pada tahun 1999 sampai tahun 2009. Inilah bukti kecintaan masyarakak
yang ada di lingkungannya beliau dengan memberikan kepercayaan selama sepuluh
(10) tahun untuk memimpin mereka (RT-1). dari kepercayaan yang diberikan
olehnya. Asrul berusaha memberikan sifat kepemimpinannya.semua itu dibuktikan
dengan usahanya memperjuangkan listrik masuk di RT-1 satu yang waktu itu belum
tersentuh sama sakali. Setelah usaha yang diperjuangkanya itu, barulah pada
tahun 2003 warga RT-1 dapat menikmati cemerlangnya malam hari. RT-1 sebagai
daerah yang letaknya di ujung Vatutela (berada di kaki gunung), seperti yang
telah disebutka diatas bahwa belum tersentuh pasilitas yang memadai. sadar akan
hal itu Asrul melanjutkan sekolahnya di salah satu Perguruan Tinggi di Kota
palu yakni di Universitas Tadulako dengan mengambil Hukum sebagai konsetrasi
studinya. Ini semua dilakukan untuk meningkatkan kesejatraan masyarakatnya,
walaupun harus bersusah payah mencari biaya kuliah dan menghidupi keluarganya
dengan menjadi honorer di Fakultas Hukum di bagian administrasi[15]
Sementara
dalam konsterasinya dalam perkuliahan, disamping itu juga melakukan perjuagan
pembangunan jalan. tahun 2006 pemerintah kota Palu memberikan lampu hijau untuk
pembagunan jalan yang diusulkan oleh warga RT-1 itu. 2008 merupakan momen
penting bagi usaha keras yang selama ini di tempuh Asrul dengan menyandang
Sarjana Hukum. dan satu tahun kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil
(PNS). Diwaktu yang bersamaan sebagai ketua RT tidak lagi di jabatnya. tapi
karena kinerja yang nampak di mata warga Vatutela, maka sekali lagi dipercaya
sebagai Ketua RW-13 Vatutela. Program pertama yang dijalankanya dengan
dibangunnya jembatan yang menghubungakan antara RT-1, RT- 2 dan RT -3, RT-4.[16]
Dengan
mengenyandang dua tugas penting sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan Ketua
RW-13 periode 2009-2014, seorang Asrul tidak langsung melupakan apa yang
menjadi ciri khas ekonomi di daerah ini yakni petani kemiri dan peternak. Beliau
mempunyai tanah dengan luas 3 Ha yang didiami pohon kemiri yang dikelolah
bersama bersama keluarga (ipar). dan ternak kambing yang jumlahnya delapan (8)
ekor. Tanpa adanya pembagian waktu yang tepat, semua kesibukan yang dilakoninya
tak akan berjalan lancar. Ditambah lagi beliau melanjutkan sekolah S2
(Magister) di Universitas Tadulako dengan studi yang sama. [17]
Abdul Jalal: Kembali dari Perantauan.
RT-3
yang awalnya merupakan bagian dari RT-2 di Vatutela. tahun 2003 RT-3 dimekarkan
dengan mengambil daerah administratif RT-2 (sebelum dimekarkan). Daerah ini
merupakan pusat ternak anak, baik itu ayam potong, ayam petelur. didaerah ini
Abd Jalal anak ke-3 dari enam bersauara masing-masing 1) Nubi, 2) Sudirman, 3)
Abd Jalal, 4) ariya, 5) anhar, dan 6) Edirman dari pasangan Palijawa (bapak)
dengan Nurmi (ibu). Abd Jalal dilahirkan pada tanggal 21 januari 1958.
pendidikan dasarnya di tekuni dikampung halamanya. Setelah lulus SD Vatutela
(SD inpres sekarang) tahun 1971, Abd Jalal melanjutkan sekolahnya di PGAN 4
tahun (setingkat Sanawiyah/SMP) di jalan Cut Di Tiro lulus tahun1975. Pada
waktu itu sekolah agama yang ada kota Palu hanya PGAN dan Al-khairaat dan
pertimbangan yang dari kelulusannya di PGAN, beliau beliau melanjutkannya di
sekolah yang sama namun program pendidikan yang berbasis enam (6) tahun
(setingkat Madrasa Aliyah).[18]
Sebagai manusia yang haus akan ilmu. Abd Jalal khususnya, tidak puas dengan
ilmu yang di dapatkan di PGAN dan memberanikan diri untuk bersaing masuk di
salah satu perguruan tinggi Agama di STAIN Datokarama pada tahun 1981, namun
berselam dua (2) semester berenti karena alasan ekonomi.
Tidak
hanya diam duduk dirumah, beliau pun mengikuti kursus pengetikan computer dengan
system sepuluh (10) jari. Itu dilakukannya karena pada waktu itu disetiap
instansi pemerintahan membutuhkan keahlian itu. Tapi hasilnya nol. Setelah dua
(tahun) menganggur, disitulah beliau dapat melanjutkan pendidikannya di IKIP
Bumi Bahari (gratis). Setelah diwudisium, langsung mengabdikan diri sebagai
tenaga honorer di dua sekolah pertama SD Al-Khairaat Tondo di pagi harinya dan
sing harinya dilanjutkan di SMP Al-Khairaat Tondo. Tidak lama menjadi tenaga
honorer Abd Jalal diangkat sebagai Pagawai Negeri Sipil (PNS). Aturan yang
berlaku pada waktu bagi PNS baru bahwa “siap ditempatkan dimana saja” dengan
aturan itu ditempatkan daerah Maluku Utara (ternate) di Pulau Morotai.
Di
daerah tempat Pak Jalal (nama keseharian) mengabdi sebagai Pegawai Negeri
Sipil. di daerah ini pula bertemu dengan pasangan hidupnya Amina tahun 1984.
Arif (20 Juni 1985), Muhammad Said (20 Juni 1988), Ridwan (26 November 1992),
dan Najrah (11 April 1998) merupakan hasil dari perkawinannya dari istri
tersayang. Tahun 2000 merupakan tahun yang tidak diinginkan oleh keluarga ini
khususnya warga Maluku. terjadi kerusuhan antar agama yang memakan korban dari
kedua belah pihak (Islam-Kristen). Akibat dari kerusuhan itu Abd Jalal beserta
keluarga kembali ke kampung halamannya di Vatutela.
Kembali
di daerah asal merupakan hal yang terindah bagi setiap individu.lain halnya
yang dirasakan oleh Pak Jalal, yang pulang hanya membawa uang Rp 6.000,-. dengan
menumpang di rumah keluarga. Tapi dengan hati yang sabar, pada tahun 2000 oleh
Darman Burase di panggil untuk menjadi tenaga pengajar di SMP 19 Palu sebagai
Guru Agama. Dari situlah beliau mulai memperbaiki hidupnya. Dan sekarang ini
memiliki ternak kambing sebanyak 30 ekor yang diurus sepenuhnya oleh keluarga
dan dibantu oleh ipar (orang yang bersediah menampungnya sewaktu pulang dari
Maluku).[19]
Muhammad Yusuf: PNS Donggala di Vatutela
Muhammad
Yusuf lahir di Tondo pada tanggal 5 Mei 1957. Yusuf, itu panggilan akrabnya
menikah dengan Ramlahwati, gadis di Vatutela juga. Pasangan ini dikaruniai
empat (4) anak dua laki-laki dan dua perempuan. anak pertama bernama Rifki, 2)
Yuliastri, 3) Triang Raini, dan 4) Sahrul. Pada tahun 1970,
saat tepat berusia 13 tahun, beliau sekolah di Sekolah Dasar Negeri Tondo.
Setelah enam tahun bersekolah, beliau menamatkan pendidikan dasar pada tahun
1976. Selama menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, Muhammad Yusuf tumbuh dan
berkembang layaknya anak-anak seusianya.
Setelah enam tahun menempuh pendidikan
dasar, pada tahun 1976, beliau menamatkan pendidikan dasarnya dan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau memilih SMP Alkhairaat Tondo sebagai
tempat untuk menempuh pendidikan tingkat menengah. Disini dapat kita lihat bahwa pendidikan
agama yang didapatnya sejak masih kecil agaknya mempengaruhi pilihannya untuk
melanjutkan pendidikan. Hal ini dilihat pula dari kecenderungan masyarakat kota
Palu khususnya Vatutela pada saat itu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah
formal. Selama menempuh pendidikan di SMP Alkhairaat Tondo, beliau makin
memperdalam ilmu agamanya dan terus mengasah kemampuan dalam pendidikan formal.
Perjuangan tersebut berbuah manis dengan kelulusan pada tahun 1979. Muhammad
Yusuf Sekolah Menengah Atas (SMA) Alkhairaat Palu. Setelah tiga tahun berjuang
menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Alkhairaat Palu, Muhammad
Yusuf lulus dengan meyakinkan.
Sebagai latar belakang yang
berpendidikan agama Muhammad Yusuf tidak serta merta puas akan hal itu, dalam
artian ini beliau tidak hanya terpaku satu ilmu saja. Untuk itu beliau memilih
sekolah dai salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Politik (STISIPOL) Palu. Di tengah
perjalanan karena, persoalan ekonomi keluarga Muhammad Yusuf. di STISIPOL
beliau sempat mengembang ilmu selama 5 tahun 5 bulan.
Karirnya di mulai menenjak menjadi
honorer di Dinas Pertanian di Kabupaten Donggala. Setelah satu tahun
pengabdiannya di Donggala, Muhammad Yusuf di angkat sebagai Pegawai Negeri
Sipil Kabupaten Donggala. dengan jarak ± 35 km dari
Vatutela – Donggala. Dengan jarak sejauh itu kebanyakan orang akan memilih
dengan surat permohonan pindah. namun hal itu tidak dilakukan oleh Muhammad
Yusuf dengan alasan kepercayaan dan pengabdian. Mungkin semua itu dapat di
lihat dari latar belakang Sekolah (STISIPOL) yang menekankan kesetiaan.
Tidak jauh berbeda dari yang Muhammad
Yusuf tidak meninggalkan keperjaan mayoritas masyarakat Vatutela sebagai petani/berkebun
dan peternak. beliau memiliki 30 pohon cengkeh dan 20 ekor sapi. Pekerjaan
inilah yang dilakukanya setelah pensiun dari Dinas Pertanian Kabupaten Donggala
pada tahun 2013 lalu.[20]
Kesimpulan
Vatutela sebagai masyarakat adat, sangat
susah melihat Orang Kaya dari penampilan luarnya. Sebab ada yang memiliki rumah
yang mewah namun hasil dari penjualan tanah. Mayoritas penduduk sebagai
petani/berkebun, beternak dan bahkan kedua-duanya, membuat kita bertambah susah
melihat akan hal diatas. perkembangan orang kaya ini dapat dilihat setelah
pindahnya Universitas Tadulako di Kelurahan Tondo yang menyebabkan sungai di
wilayah ini kering dan tanaman pun berguguran dan, 2) dijadikannya Vatutela
sebagai Taman Hutan Raya (TAHURA) oleh Dinas Kehutanan Daerah Kota Palu yang
memiliki larangan untuk membuka lahan. Akibatnya banyak masyarakat Vatutela
yang memilih keluar daerah untuk mencari penghidupan yang layak. Setelah
berkehidupan cukup di daerah orang lain, warga tersebut kembali ke tempat
kelahirannya dan membeli tanah dari warga setempat dengan ditumbuhi cengkeh dan
kemiri. Dan ada juga memilih menjadi Pekerja Negeri Sipil (PNS).
Sebagai masyarakat Vatutela, orang kaya
di daerah sadar akan posisinya sebagai masyarakat adat, sehingga penetapan
orang kaya ini bukan dari individu itu sendiri tapi berasal dari masyarakat
setempat yang dipandang layak. Seperti halnya pak Husen yang ketika ditemui
yang mengatakan bahwa “itu hanyalah cerita belaka” ini menandakan bahwa beliau
tidak sadar akan perspiktif masyarakat terhadapnya.
Daftar
Pustaka
Azmi
Sirajudin, Ngapa
Vatutela: Di Antara Tahura dan Tamban, http://www.ymp.or.id/content/view/310/35/,
diakses pada tanggal 13 Juni 2014.
Haliadi
Sadi, Nosarara Nosabatutu (Bersaudara dan
Bersatu), Nuansa Aksara, Yogyakarta, 2010.
Masyhuddin Masyuda, Catatan Kritis Palu Meniti Zaman, YKST kerjasama dengan BAPPEDA
Kota Madya Palu, 2000.
Jurnal Midden Celebes Vol. 1 No.1
Januari – Maret 2012. ORANG KAYA BARU:
Sisi Lain Perkembangan Ekonomi Rakyat Di Teluk Peling. Belum diterbitkan.
Laporan mahasiswa KKN wilayah Vatutela
Bagian RT. 01 – RT. 02 Angkatan 64 tahun
2012 – 2013.
Wilman
Darsono Lumangino, 2006, Mengais Rezeki
Di Ayunan Ombak: Perkembangan Produksi dan Pemasaran Rumput Laut Di Bulagi
(1989-2004). Skripsi tidak diterbitkan.
Daftar Informan
Wawancara
dengan Muslimah (laki-laki), Pekerjaan Sebagai Tokoh Adat, Umur 74 tahun. Selasa, 3 Juni 2014.
Wawancara dengan Haris, Pekerjaan
sebagai Honorer dan Ketua RT 1 Vatutela, Umur 38 tahun. Selasa 27 Mei 2014.
Wawancara dengan Husen, Pekerjaan
sebagai Wiraswasta, Umur 58 tahun, Tanggal 29 Mei 2014.
Wawancara
dengan Abd Jalal, Pekerjaan sebagai Guru, Umur 56 tahun. Tanggal 8 Juni 2014.
Wawancara dengan Asrul, Pekerjaan
sebagai Pegawai Negeri Sipil dan Ketua RT-2 Vatutela, Umur 41 Tahun. Tanggal l8
Juni 2014.
Wawancara dengan Muhammad Yusuf,
Pekerjaan sebagai Pensiunan PNS, Umur 57. Tanggal 8 Juni 2014.
[1] Nama salah satu dusun yang ada di kota Palu, Kecamatan Mantikulore
kelirahan Tondo.
[2] Jurnal Midden Celebes Vol. 1 No.1 Januari – Maret 2012. ORANG KAYA BARU:
Sisi Lain Perkembangan Ekonomi Rakyat Di Teluk Peling. hal 72 (belum diterbitkan).
[3] Hasil wawancara dengan Pak Muslimah, Selasa, 3 juni 2014.
[4] Hasil wawancara dengan Pak
Haris, selasa 27 mei 2014.
[5] Laporan mahasiswa KKN wilayah Vatutela
Bagian RT. 01 – RT. 02 Angkatan 64 tahun
2012 – 2013. taanpa halaman.
[6] ibid.
[7]Azmi Sirajudin, Ngapa Vatutela: Di Antara
Tahura dan Tamban, http://www.ymp.or.id/content/view/310/35/, diakses pada tanggal 13
Juni 2014.
[8] Ibid.
[9] Wilman Darsono Lumangino, 2006, Mengais
Rezeki Di Ayunan Ombak: Perkembangan Produksi dan Pemasaran Rumput Laut Di
Bulagi (1989-2004). Skripsi tidak diterbitkan. Hal 40-41.
[10] Hasil wawancara dengan ebid, selasa, 3 Juni 2014.
[11] ekspedisi merupakan istilah bagi supir truk pengantarkan barang
yang melintasi Kabupaten bahkan lintas Provinsi.
[12] biasa disebut asisten Supir.
[13] supir truk yang melakukan perjalanan lintas Kabupaten atau Provinsi
[14] Hasil wawancara dengan Husen, kamis, 29 Juni 2014.
[15] ditahun 2002 menjadi honorer di staf
administrasi di Fakultas Hukum dengan upah Rp. 150.000,-
[16]
di Vatutela yang awalnya hanya terdapat 2 RT, dan pada tahun 2009 menjadi 4 RT
dan semua itu terjadi perubahan batas administratif secara meyeluruh.
[17]Hasil wawancara dengan Asrul, tanggal 8 Juni 2014.
[18] PGAN ini merupakan sekolah yang merangkul semua pendidika mulai
dari Sekolah Dasar (MI) sampai sekolah menengah atas (madrasa aliyah). dan
sekarang ini berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri 2 (MAN 2) Palu di jalan Cut
Di Tiro kelurahan Besusu Timur.
[19] Hasil wawancara dengan Abd Jalal, tanggal 8 Juni 2014.
[20] Hasil wawancara dengan Muhammad Yusuf, tanggal 8 Juni 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar