Minggu, 12 Maret 2017

Orang Kaya Yang Terasingkan: Studi Vatutela

Orang Kaya Yang Terasingkan
oleh:
Muhammad Achail Darwis
Dalam penulisan sejarah kota Palu seperti karya Masyhuddin Masyhuda “Catatan Krisis Palu Meniti Zaman”, Haliadi Sadi yang berjudul “Nosarara Nosabatutu (Bersaudara dan Bersatu)”, dan Neni Muhidin “Palu Dititik Nol”, yang membahas Kota Palu dari prespektif Sejarah Kota. Tetapi, ketiga buku tersebut tidak menyentuh atau menyebutkan sekalipun nama Vatutela[1]. tulisan ini bermaksud mengungkap dan mengobrak-abrik sisi positif dan negative dari daerah ini, yang dari penulisan kota Palu tidak tersentuh sama sekali padahal berada dalam daerah administratif Kota palu. Apalagi dalam penulisan yang memfokuskan diri pada individu-individu yang berpengaruh di sector ekonomi (orang kaya) masih lemah. Terutama yang tinggal di kota-kota besar maupun di kota kecil. Padahal keberadaan orang kaya dapat mempegaruhi keberadaan wilayah tempat tinggalnya.[2] Dalam system ekonomi dikenal system saving. Artinya ketika ada masyarakat Vatutela membutuhkan uang, tanah merupakan pikiran utama untuk dijual. Otomatis yang membutuhkan uang itu menjual tanah milik mereka dengan harga yang relatif murah. Tidak hanya itu, untuk mengisih waktu laung orang kaya di daerah ini beternak dan sebagai Pekerja Negeri Sipil dan bahkan sampai keluar daerah. Setelah mendapat penghidupan di luar, barulah kembali ke daerah asal mereka. Keadaan inilah yang menciptakan orang kaya di Vatutela sebagai wujud perkembangan daerahnya.
Nama Vatutela sendiri memiliki dua versi, (1) masyarakat awal Vatutela dulunya mengunakan Batu Putih untuk membuat api. Yang menurut bahasa Vatu: artinya Batu sedangkan Tela: artinya Percikan Api, berarti Vatutela adalah  batu yang dapat menghasilkan percikan api.[3] Dan persi yang kedua (2) bahwa nama Vatutela adalah nama orang dahulu yang di tuakan di daerah tersebut.[4] Wilayah Vatutela awalnya berupa gunun yang gundul, tidak ada kayu. Nanti setelah tahun 1978-1979 dilakukan penghijauan. Tanaman yang ditaman adalah pada waktu itu berupa tanaman Akasia dan rumput.[5]
Masyarakat Vatutela atau to vatutela adalah komunitas masyarakat adat yang mendiami dusun kecil di Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikulore. Suku yang mendiami wilayah ini ialah suku Kaili yang berbahasa Tara. Luas wilayah ngata vatutela seluas 3.525 ha. Masyarakatnya hidup sebagai petani, kebun, peternak, buruh, dan  Pegawai Negeri Sipil. Daerah ini terletak di kaki gunung dengan batas wilayah: Sebelah utara berbatasan langsung dengan Gunung Bulubionga, Sebelah timur berbatasan dengan Gunung Jambuk, Sebelah utara berbatasan dengan Gunung Saluwou, sedangkan Sebelah barat berbatasan langsung dengan BTN Bumi Roviga. Ekonomi masyarakat Vatutela tidak terlepas dari perkembangan ekonomi masyarakatnya. Masyarakat Vatutela merupakan masyarakat adat sebagai suatu ketentuan sekaligus sebagai kedaulatan meskipun berada di daerah administratif kota Palu. Meskipun aturan ini terikat dengan adat tapi pola ini juga dapat menyebabkan timbulya perekonomian baru. Hal  ini dapat dilihat sebelum munculnya mata pencaharian di bidang perernakan.
Sejarah ekonomi di Vatutela sangat berdeda kondisinya dengan kawasan lain di daerah Palu. Pasalnya, sentuhan ekonomi modern baru dirasakan setelah LSM Merah Putih menjadikan Vatutela sebagai wilayah binaanya.  Sejarah ekonomi Vatutela, berawal dari ladang berpindah, kemudian perkebunan tanaman produksi, buruh/jasa, dan pedagang, serta sebagai Pekerja Negeri Sipil. Pola perekonomian ini berjalan dalam kurung waktu yang relatif cukup lama. Ladang biasanya ditamani rempah-rempah (kemiri dan cengkeh). Menurut Haris bahwa, jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan oleh penduduk di Vatutela ini yakni, kemiri dan cengkeh.[6]
Tapi, sebahagian masyarakat kini memilih meninggalkan profesi bertani dan beternak. Dengan kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit, serta ketersediaan air bersih yang semakin menipis, orang Vatutela harus mulai memikirkan masa depannya.  Saat ini, kaum laki-lakinya banyak yang bekerja di sektor informal perkotaan. Seperti menjadi buruh bangunan, tukang ojek dan buruh pabrik. Setelah tambang emas Poboya digerakkan secara massal, sebahagian laki-laki ikut pula sebagai penambang.
Kaum perempuan, sebahagian besar menjadi pekerja di pabrik-pabrik, di wilayah Tondo dan Mamboro. Salah satu pemandangan unik ketika berkunjung ke Vatutela kita akan susah bertemu kaum perempuan di siang hari. Mereka, selain ke ladang untuk bertani dan beternak, juga berada di pusat-pusat industri di kota palu. Dengan harus rela meninggalkan anak-anak dan suami. Sore hari, kaum perempuannya dapat kita saksikan berduyun-duyun pulang dari pusat perindustrian. Dan juga sebagai PNS. Lambat laung munculah orang kaya di daerah ini.
Penjelasan diatas dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengkaji orang kaya di Vatutela. Munculnya sumber ekonomi baru setelah masuknya LSM Merah Putih di daerah ini, terlebih lagi setelah dikeluarkanya SK No: 461 / KPTS-II/1995 tertanggal 4 September 1995, untuk menetapkan satu kawasan konservasi seluas 8.100 ha, dengan sebutan Taman Hutan Raya (TAHURA) Palu.[7] Membelah dua wilayah administrasi pemerintahan, kota Palu dan Kabupaten Sigi. Tahura, sebagai kawasan konservasi, memiliki batasan dan larangan yang tak boleh dilanggar siapapun. Termasuk, larangan memasuki kawasan itu selain tujuan penelitian, pendidikan dan rekreasi serta wisata alam.
Kehadiran TAHURA menyebabkan ruang kelola orang Vatutela semakin menyempit dan terbatas. Karena, kawasan tahura hanya berjarak ½ km dari perkampungan dan ruang kelola masyarakat. Termasuk, salah satu sumber mata air yang masih dapat diandalkan orang Vatutela, terletak dalam kawasan tahura. Oleh sebab itu, kehadiran tahura dengan berbagai pembatasannya menambah kesulitan hidup to vatutela. Termasuk untuk pemenuhan suplai air ke perkampungan.
Dua tahun berselang, Presiden memberikan izin kontrak karya kepada Rio Tinto melalui anak perusahaannya bernama Cipta Palu Mineral (CPM). Dengan surat keputusan Presiden No. B-143/pres/3/1997, untuk pertambangan emas, dengan luas konsesi  561.050 hektar di Sulawesi Tengah. Untuk wilayah palu, dinamakan blok Poboya-Palu, dengan luas areal mencapai 37.020 ha. Sebahagian dari blok Poboya-Palu mencakup wilayah Vatutela dan sekitarnya.[8]
Perubahan Ekonomi Masyarakat
            Jalan hidup setiap orang memang sulit tebak. Bahkan untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan peningkatan pendapatan, dia harus melewati aneka macam tantangan dan rintangan.[9] Perubahan status ekonomi dalam kehidupan masyarakat Vatutela menurut Ebid “ jangan menilai orang yang ada di Vatutela ini dari apa yang dilihat seperti rumah, dan gaya sebab semua itu dapat menipu. Ada yang mempunyai rumah yang mewah namun belum tentu itu dari penghasilan mereka, dan sebaliknya ada rumah yang menyerupai gubuk namun penghasilanya mungkin tidak seperti apa yang kelihatan”.[10] Hal ini berarti mereka mempunyai kisah menarik seputar perjalanan hidup sebagai masyarakat Vatutela yang cendrung terabaikan.
Husen: Hidup Dari Keberagaman Individu
        Husen adalah peduduk Vatutela yang menopang hidup keluarganya dari berbagai usaha yang dilakoninya. Lelaki yang lahir ditahun 1956 di Vatutela, anak ke empat (4) dari sembilang bersaudara (9) yang berasal dari suku bugis (bapak), dan kaili tara (ibu). Husen memilih Jona sebagai pasagan hidupnya di tahun 1975. Dan sampai sekarang belum diruniai buah hati. Feri yang merupakan anak angkat dari keluarga ibu. Beliau hanya menempu pendidikan sampai Sekolah Dasar di SD inti tondo  dan tamat di tahun 1975. Alasan kenapa beliau tidak melanjutkan pendidikan, disebabkan orang tua (bapak) beliau meninggal dunia serta alasan keuangan. Setelah tamat SD, Husen menikahi Jona di tahun yang sama. Beliau tidak putus asah menghadapi kerasnya hidup ini.
        Lulusan Sekolah Dasar ini, pernah melakukan ekspedisi Sulawesi untuk menghidupi keluarganya. Diantaranya di tahun 1975 ditahun dia menikah, berangkat dari Palu menuju Luwuk segagai kernek truk angkutan barang. Barang yang di bawah dari Luwuk langsung didistribusikan ke daerah Morowali (Bungku). Dan ditahun yang sama Husen juga melakukan ekspedisi[11] ke Gorontalo dan Manado dengan mendistribusikan barang yang sama, yakni barang campuran. Beliau diberikan kepercayaan oleh orang Cina yang ada di Luwuk pada waktu itu. Dan pernah juga bekerja untuk orang Arab yang ada di Luwuk.
        Karena ketukunan dan kerja kerasnya, pada tahun 1982 Husen diberi kepercayaan oleh atasanya untuk tidak lagi menjadi kernek[12], beliau diberi sebuah truk sendiri untuk dijalankannya. Sebagai manusia biasa Husen tidak bisa terus-menerus meninggalkan keluarganya apalagi seorang isrti yang dinikahinya tidak pernah mendapat kasih sayang yang penuh dari suami tercintah. Dengan musyawarah kecil-kecilan oleh keluarga, akhirnya pada tahun 1984 Husen memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai supir truk (ekspedisi[13]).
        Sebagai keluarga yang dibesarkan di Vatutela yang mayoritas penduduk menggantungkan hidupnya dengan berkebun. Setelah beberapa tahun lamanya yakni di tahun 1995, dengan pikiran yang jerni Husen membeli kebun kemiri dan cengkeh sebagai usaha awalnya setelah dia meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai supir truk. Hal ini dilakukannya karena melihat kondisi masyarakat yang krisis akan air bersih. Dan banyak warga Vatutela sendiri menjual tanah mereka. Dari usaha awalnya itu sebagai petani kemiri dan cengkeh menurut penuturan belian:
“Kalau ingin mengandalkan penghasilan dari kemiri dan cengkeh kitatidak bisa hidup, sebab kebutuhan ekonomi waktu itu bisa dibilang sangat tinggi di tambah lagi harga kemiri dan cengkeh tergolong tidak menentu. Begitupun juga dengan hidup sehari-hari kita tidah harus tinggal diam menunggu hasil. Dan kita tidak hanya ingin makan untuk satu hari itu saja. Kita pun juga harus berfikir untuk ke depannya”.[14]
        Dari situlah Husen mendapat inspirasi baru untuk menambah usahanya. 1) usaha ternak kambing, usaha ini diserahkan kepada keluarga untuk di kelolah, hasilnya pun dibagi rata. Namun dalam pembagian hasil ini bukan uang yang diperioritaskan tapi hasil dari kambing itu sendiri (anak kambing). 2) jual beli motor. Karena begitu sulit dan membutuhkan keahlian khusus dalam menjalankan usaha ini, beliau memutuskan untuk menjalankannya sendiri. Dan 3) pedagang sapi, dan kambing. Dari beberapa usaha yang dilakukanya, beliau memproritaskan diri diusaha ini. Sebab keuntungan dari dagang sapi, dan kambing ini tergolong mengiurkan. Dari keuntungan sapi saja beliau bisa mendapatkan mininal Rp 1.000.000,- per ekornya. Dan kadang dalam satu hari itu bisa mendapat keuntungan sampai Rp 3.000.000,-. Begitupun dengan kambing, yang keuntungannya bisa mencapai Rp 500.000,- per ekornya. Serta 4) jual beli tanah.
        Dengan berbagai usaha yang dirintisnya tidak menjadikan beliau sombong akan hal itu. Terutama dalam usaha bertani kemiri, cengkeh, ternak sapi, dan kambing. Karena dengan itu beliau dapat menciptakan lapangang kerja bagi masyarakat Vatutela. Dan dari usahanya itu, dengan hati yang tulus hampir semua karyawan (pekerjanya baik itu dibidang perkebunan maupun peternakan) di belikanya kendaraan roda dua. Inilah sebab kenapa beliau sangat di hormati di Vatutela khususnya di RT 1. Husen merubah nasibnya bukan karena dirinya semata tapi adanya usaha orang lain pula.
Asrul : Berjuang Untuk Masyarakat
        Tayo Dea (Banyak kuburan) merupakan kampung kecil di Vatutela yang berada di RT 2. kampung kecil ini berbatasan langsung dengan Pelava (kampung kecil di Vatutela yang sekarang dikenal RT 3 dan RT 4). Asrul, lahir di Tondo pada tanggal 2 Maret 1973. anak ketiga dari 9 (sembilang) bersaudara. Asrul menempu pendidikanya di SD inti Tondo, setelah lulus di tahun 1987 beliau melanjutkan sekolahnya di salah satu cabang pendidikan Al-khiraat di Tondo yakni SMP Al-khairaat dan lulus di tahun 1990. Tidak puas akan hal itu tahun 1991 Asrul mendaftarkan diri di SMK 4 Palu dan lulus dengan hasil yang memuaskan di tahun 1994.
        Satu tahun bersalam, meskipun Asrul masih lulusan Sekolah Menengah Atas, beliau dipercaya untuk menjadi tenaga honorer di SMK 5 Palu. dan mengabdi selama tujuh (7 tahun). dalam menunaikan tugasnya sabagai tenaga honorer selama 2 tahun, selama itu pula pacaran dengan pasangan hidupnya sekarang ini. Febrianyah yang lahir tanggal 19 Februari 1998 merupakan buah hasil pernikahanya di tahun 1997.
        Sebagai keluarga yang dilahirkan dari keluarga yang bercukupan, Asrul tidak hanya tinggal diam meratapi nasibnya. dan tidak hanya mengandalkan hasil perkebunan (kemiri) merkipun luas tahan yang di tumbuhi kemiri cukup luas. hati yang tulus dan kerja keras dalam lingkunganya, masyarakat memandangnya sebagai orang yang pantas dijadikan panutan. Hal diataslah yang menjadikan Asrul ditunjuk sebagai ketua RT-1 pada tahun 1999 sampai tahun 2009. Inilah bukti kecintaan masyarakak yang ada di lingkungannya beliau dengan memberikan kepercayaan selama sepuluh (10) tahun untuk memimpin mereka (RT-1). dari kepercayaan yang diberikan olehnya. Asrul berusaha memberikan sifat kepemimpinannya.semua itu dibuktikan dengan usahanya memperjuangkan listrik masuk di RT-1 satu yang waktu itu belum tersentuh sama sakali. Setelah usaha yang diperjuangkanya itu, barulah pada tahun 2003 warga RT-1 dapat menikmati cemerlangnya malam hari. RT-1 sebagai daerah yang letaknya di ujung Vatutela (berada di kaki gunung), seperti yang telah disebutka diatas bahwa belum tersentuh pasilitas yang memadai. sadar akan hal itu Asrul melanjutkan sekolahnya di salah satu Perguruan Tinggi di Kota palu yakni di Universitas Tadulako dengan mengambil Hukum sebagai konsetrasi studinya. Ini semua dilakukan untuk meningkatkan kesejatraan masyarakatnya, walaupun harus bersusah payah mencari biaya kuliah dan menghidupi keluarganya dengan menjadi honorer di Fakultas Hukum di bagian administrasi[15]
        Sementara dalam konsterasinya dalam perkuliahan, disamping itu juga melakukan perjuagan pembangunan jalan. tahun 2006 pemerintah kota Palu memberikan lampu hijau untuk pembagunan jalan yang diusulkan oleh warga RT-1 itu. 2008 merupakan momen penting bagi usaha keras yang selama ini di tempuh Asrul dengan menyandang Sarjana Hukum. dan satu tahun kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Diwaktu yang bersamaan sebagai ketua RT tidak lagi di jabatnya. tapi karena kinerja yang nampak di mata warga Vatutela, maka sekali lagi dipercaya sebagai Ketua RW-13 Vatutela. Program pertama yang dijalankanya dengan dibangunnya jembatan yang menghubungakan antara RT-1, RT- 2 dan RT -3, RT-4.[16]
        Dengan mengenyandang dua tugas penting sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan Ketua RW-13 periode 2009-2014, seorang Asrul tidak langsung melupakan apa yang menjadi ciri khas ekonomi di daerah ini yakni petani kemiri dan peternak. Beliau mempunyai tanah dengan luas 3 Ha yang didiami pohon kemiri yang dikelolah bersama bersama keluarga (ipar). dan ternak kambing yang jumlahnya delapan (8) ekor. Tanpa adanya pembagian waktu yang tepat, semua kesibukan yang dilakoninya tak akan berjalan lancar. Ditambah lagi beliau melanjutkan sekolah S2 (Magister) di Universitas Tadulako dengan studi yang sama. [17]
Abdul Jalal: Kembali dari Perantauan.
        RT-3 yang awalnya merupakan bagian dari RT-2 di Vatutela. tahun 2003 RT-3 dimekarkan dengan mengambil daerah administratif RT-2 (sebelum dimekarkan). Daerah ini merupakan pusat ternak anak, baik itu ayam potong, ayam petelur. didaerah ini Abd Jalal anak ke-3 dari enam bersauara masing-masing 1) Nubi, 2) Sudirman, 3) Abd Jalal, 4) ariya, 5) anhar, dan 6) Edirman dari pasangan Palijawa (bapak) dengan Nurmi (ibu). Abd Jalal dilahirkan pada tanggal 21 januari 1958. pendidikan dasarnya di tekuni dikampung halamanya. Setelah lulus SD Vatutela (SD inpres sekarang) tahun 1971, Abd Jalal melanjutkan sekolahnya di PGAN 4 tahun (setingkat Sanawiyah/SMP) di jalan Cut Di Tiro lulus tahun1975. Pada waktu itu sekolah agama yang ada kota Palu hanya PGAN dan Al-khairaat dan pertimbangan yang dari kelulusannya di PGAN, beliau beliau melanjutkannya di sekolah yang sama namun program pendidikan yang berbasis enam (6) tahun (setingkat Madrasa Aliyah).[18] Sebagai manusia yang haus akan ilmu. Abd Jalal khususnya, tidak puas dengan ilmu yang di dapatkan di PGAN dan memberanikan diri untuk bersaing masuk di salah satu perguruan tinggi Agama di STAIN Datokarama pada tahun 1981, namun berselam dua (2) semester berenti karena alasan ekonomi.
        Tidak hanya diam duduk dirumah, beliau pun mengikuti kursus pengetikan computer dengan system sepuluh (10) jari. Itu dilakukannya karena pada waktu itu disetiap instansi pemerintahan membutuhkan keahlian itu. Tapi hasilnya nol. Setelah dua (tahun) menganggur, disitulah beliau dapat melanjutkan pendidikannya di IKIP Bumi Bahari (gratis). Setelah diwudisium, langsung mengabdikan diri sebagai tenaga honorer di dua sekolah pertama SD Al-Khairaat Tondo di pagi harinya dan sing harinya dilanjutkan di SMP Al-Khairaat Tondo. Tidak lama menjadi tenaga honorer Abd Jalal diangkat sebagai Pagawai Negeri Sipil (PNS). Aturan yang berlaku pada waktu bagi PNS baru bahwa “siap ditempatkan dimana saja” dengan aturan itu ditempatkan daerah Maluku Utara (ternate) di Pulau Morotai.
        Di daerah tempat Pak Jalal (nama keseharian) mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil. di daerah ini pula bertemu dengan pasangan hidupnya Amina tahun 1984. Arif (20 Juni 1985), Muhammad Said (20 Juni 1988), Ridwan (26 November 1992), dan Najrah (11 April 1998) merupakan hasil dari perkawinannya dari istri tersayang. Tahun 2000 merupakan tahun yang tidak diinginkan oleh keluarga ini khususnya warga Maluku. terjadi kerusuhan antar agama yang memakan korban dari kedua belah pihak (Islam-Kristen). Akibat dari kerusuhan itu Abd Jalal beserta keluarga kembali ke kampung halamannya di Vatutela.
        Kembali di daerah asal merupakan hal yang terindah bagi setiap individu.lain halnya yang dirasakan oleh Pak Jalal, yang pulang hanya membawa uang Rp 6.000,-. dengan menumpang di rumah keluarga. Tapi dengan hati yang sabar, pada tahun 2000 oleh Darman Burase di panggil untuk menjadi tenaga pengajar di SMP 19 Palu sebagai Guru Agama. Dari situlah beliau mulai memperbaiki hidupnya. Dan sekarang ini memiliki ternak kambing sebanyak 30 ekor yang diurus sepenuhnya oleh keluarga dan dibantu oleh ipar (orang yang bersediah menampungnya sewaktu pulang dari Maluku).[19]
Muhammad Yusuf: PNS Donggala di Vatutela
        Muhammad Yusuf lahir di Tondo pada tanggal 5 Mei 1957. Yusuf, itu panggilan akrabnya menikah dengan Ramlahwati, gadis di Vatutela juga. Pasangan ini dikaruniai empat (4) anak dua laki-laki dan dua perempuan. anak pertama bernama Rifki, 2) Yuliastri, 3) Triang Raini, dan 4) Sahrul. Pada tahun 1970, saat tepat berusia 13 tahun, beliau sekolah di Sekolah Dasar Negeri Tondo. Setelah enam tahun bersekolah, beliau menamatkan pendidikan dasar pada tahun 1976. Selama menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, Muhammad Yusuf tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak seusianya.
        Setelah enam tahun menempuh pendidikan dasar, pada tahun 1976, beliau menamatkan pendidikan dasarnya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau memilih SMP Alkhairaat Tondo sebagai tempat untuk menempuh pendidikan tingkat menengah.  Disini dapat kita lihat bahwa pendidikan agama yang didapatnya sejak masih kecil agaknya mempengaruhi pilihannya untuk melanjutkan pendidikan. Hal ini dilihat pula dari kecenderungan masyarakat kota Palu khususnya Vatutela pada saat itu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Selama menempuh pendidikan di SMP Alkhairaat Tondo, beliau makin memperdalam ilmu agamanya dan terus mengasah kemampuan dalam pendidikan formal. Perjuangan tersebut berbuah manis dengan kelulusan pada tahun 1979. Muhammad Yusuf Sekolah Menengah Atas (SMA) Alkhairaat Palu. Setelah tiga tahun berjuang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Alkhairaat Palu, Muhammad Yusuf lulus dengan meyakinkan.
        Sebagai latar belakang yang berpendidikan agama Muhammad Yusuf tidak serta merta puas akan hal itu, dalam artian ini beliau tidak hanya terpaku satu ilmu saja. Untuk itu beliau memilih sekolah dai salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Politik (STISIPOL) Palu. Di tengah perjalanan karena, persoalan ekonomi keluarga Muhammad Yusuf. di STISIPOL beliau sempat mengembang ilmu selama 5 tahun 5 bulan.
        Karirnya di mulai menenjak menjadi honorer di Dinas Pertanian di Kabupaten Donggala. Setelah satu tahun pengabdiannya di Donggala, Muhammad Yusuf di angkat sebagai Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Donggala. dengan jarak ± 35 km dari Vatutela – Donggala. Dengan jarak sejauh itu kebanyakan orang akan memilih dengan surat permohonan pindah. namun hal itu tidak dilakukan oleh Muhammad Yusuf dengan alasan kepercayaan dan pengabdian. Mungkin semua itu dapat di lihat dari latar belakang Sekolah (STISIPOL) yang menekankan kesetiaan.
        Tidak jauh berbeda dari yang Muhammad Yusuf tidak meninggalkan keperjaan mayoritas masyarakat Vatutela sebagai petani/berkebun dan peternak. beliau memiliki 30 pohon cengkeh dan 20 ekor sapi. Pekerjaan inilah yang dilakukanya setelah pensiun dari Dinas Pertanian Kabupaten Donggala pada tahun 2013 lalu.[20]

Kesimpulan
        Vatutela sebagai masyarakat adat, sangat susah melihat Orang Kaya dari penampilan luarnya. Sebab ada yang memiliki rumah yang mewah namun hasil dari penjualan tanah. Mayoritas penduduk sebagai petani/berkebun, beternak dan bahkan kedua-duanya, membuat kita bertambah susah melihat akan hal diatas. perkembangan orang kaya ini dapat dilihat setelah pindahnya Universitas Tadulako di Kelurahan Tondo yang menyebabkan sungai di wilayah ini kering dan tanaman pun berguguran dan, 2) dijadikannya Vatutela sebagai Taman Hutan Raya (TAHURA) oleh Dinas Kehutanan Daerah Kota Palu yang memiliki larangan untuk membuka lahan. Akibatnya banyak masyarakat Vatutela yang memilih keluar daerah untuk mencari penghidupan yang layak. Setelah berkehidupan cukup di daerah orang lain, warga tersebut kembali ke tempat kelahirannya dan membeli tanah dari warga setempat dengan ditumbuhi cengkeh dan kemiri. Dan ada juga memilih menjadi Pekerja Negeri Sipil (PNS).
        Sebagai masyarakat Vatutela, orang kaya di daerah sadar akan posisinya sebagai masyarakat adat, sehingga penetapan orang kaya ini bukan dari individu itu sendiri tapi berasal dari masyarakat setempat yang dipandang layak. Seperti halnya pak Husen yang ketika ditemui yang mengatakan bahwa “itu hanyalah cerita belaka” ini menandakan bahwa beliau tidak sadar akan perspiktif masyarakat terhadapnya.
Daftar Pustaka
Azmi Sirajudin, Ngapa Vatutela: Di Antara Tahura dan Tamban, http://www.ymp.or.id/content/view/310/35/, diakses pada  tanggal 13 Juni 2014.
Haliadi Sadi, Nosarara Nosabatutu (Bersaudara dan Bersatu), Nuansa Aksara, Yogyakarta, 2010.
Masyhuddin Masyuda, Catatan Kritis Palu Meniti Zaman, YKST kerjasama dengan BAPPEDA Kota Madya Palu, 2000.
Jurnal Midden Celebes Vol. 1 No.1 Januari – Maret 2012. ORANG KAYA BARU: Sisi Lain Perkembangan Ekonomi Rakyat Di Teluk Peling. Belum diterbitkan.
Laporan mahasiswa KKN wilayah Vatutela Bagian RT. 01 – RT. 02 Angkatan 64 tahun  2012 –  2013.
Wilman Darsono Lumangino, 2006, Mengais Rezeki Di Ayunan Ombak: Perkembangan Produksi dan Pemasaran Rumput Laut Di Bulagi (1989-2004). Skripsi tidak diterbitkan.
Daftar Informan
Wawancara dengan Muslimah (laki-laki), Pekerjaan Sebagai Tokoh Adat, Umur 74 tahun.  Selasa, 3 Juni 2014.
Wawancara dengan Haris, Pekerjaan sebagai Honorer dan Ketua RT 1 Vatutela, Umur 38 tahun. Selasa 27 Mei 2014.
Wawancara dengan Husen, Pekerjaan sebagai Wiraswasta, Umur 58 tahun, Tanggal 29 Mei 2014.
Wawancara dengan Abd Jalal, Pekerjaan sebagai Guru, Umur 56 tahun. Tanggal 8 Juni 2014.
Wawancara dengan Asrul, Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dan Ketua RT-2 Vatutela, Umur 41 Tahun. Tanggal l8 Juni 2014.
Wawancara dengan Muhammad Yusuf, Pekerjaan sebagai Pensiunan PNS, Umur 57. Tanggal 8 Juni 2014.




[1] Nama salah satu dusun yang ada di kota Palu, Kecamatan Mantikulore kelirahan Tondo.
[2] Jurnal Midden Celebes Vol. 1 No.1 Januari – Maret 2012. ORANG KAYA BARU: Sisi Lain Perkembangan Ekonomi Rakyat Di Teluk Peling. hal 72 (belum diterbitkan).
[3] Hasil wawancara dengan Pak Muslimah, Selasa, 3 juni 2014.
[4]  Hasil wawancara dengan Pak Haris, selasa 27 mei 2014.
[5] Laporan mahasiswa KKN wilayah Vatutela Bagian RT. 01 – RT. 02 Angkatan 64 tahun  2012 – 2013. taanpa halaman.

[6] ibid.
[7]Azmi Sirajudin, Ngapa Vatutela: Di Antara Tahura dan Tamban, http://www.ymp.or.id/content/view/310/35/, diakses pada  tanggal 13 Juni 2014.
[8] Ibid.
[9] Wilman Darsono Lumangino, 2006, Mengais Rezeki Di Ayunan Ombak: Perkembangan Produksi dan Pemasaran Rumput Laut Di Bulagi (1989-2004). Skripsi tidak diterbitkan. Hal 40-41.
[10] Hasil wawancara dengan ebid, selasa, 3 Juni 2014.
[11] ekspedisi merupakan istilah bagi supir truk pengantarkan barang yang melintasi Kabupaten bahkan lintas Provinsi.
[12] biasa disebut asisten Supir.
[13] supir truk yang melakukan perjalanan lintas Kabupaten atau Provinsi
[14] Hasil wawancara dengan Husen, kamis, 29 Juni 2014.
[15] ditahun 2002 menjadi honorer di staf administrasi di Fakultas Hukum dengan upah Rp. 150.000,-
[16] di Vatutela yang awalnya hanya terdapat 2 RT, dan pada tahun 2009 menjadi 4 RT dan semua itu terjadi perubahan batas administratif secara meyeluruh.
[17]Hasil  wawancara dengan Asrul, tanggal 8 Juni 2014.
[18] PGAN ini merupakan sekolah yang merangkul semua pendidika mulai dari Sekolah Dasar (MI) sampai sekolah menengah atas (madrasa aliyah). dan sekarang ini berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri 2 (MAN 2) Palu di jalan Cut Di Tiro kelurahan Besusu Timur.
[19] Hasil wawancara dengan Abd Jalal, tanggal 8 Juni 2014.
[20] Hasil wawancara dengan Muhammad Yusuf, tanggal 8 Juni 2014.

MASUKNYA ISLAM DI POSO: Sebuah Resensi “Buku Sejarah Poso”

MASUKNYA ISLAM DI POSO:
Sebuah Resensi “Buku Sejarah Poso”

Oleh:
Muhammad Achail Darwis

Masuknya Islam di Poso masih merupakan tanda tanya besar bagi masyarakatat Poso sendiri khususnya para ahli sejarah Sulawei Tengah. Namun beberapa data seperti data arsip Belanda, sumber lokal maupun cerita rakyat yang menyatakan bahwa masuknya Islam di Poso dapat dikategorikan dalam tiga fase, 1) fase yang dilakukan oleh para pedagang Islam Bugis, 2) fase yang dilakukan oleh Kesultanan Ternate, dan 3) fase yang dilakukan oleh orang Arab.
Pengenalan ajaran Islam di sepanjang pantai pesisir pantai Tojo dan Una-Una dan Poso Pesisir, didominasi oleh para saudagar yang berasal dari tanah Bugis. Hal ini dapat dibuktikan dari pengaruh Islam Bugis dimana di kalangan masyarakat Tojo dan Una-Una serta Togean Kepulauan, dalam mangajarkan huruf-huruf Al-Qur’an lebih banyak menggunakan ejaan Bugis. Bukti lain didapatkan dalam buku Mededeelingen van Het Bureau Voor de Bestuurzaken der Buitebezettinge,  yang menyebutkan bahwa pengenalan awal tentang agama Islam di Bungku, Mori (Kolonodale), Tojo Una-Una dan Poso Pesisir dilakukan sekitar akhir abad XVI yang dibawa oleh para sudagar yang berasal dari Bugis Bone dengan menggunakan kapal tradisional Phinisi.
Demikian pula, pengalaman Islam di wilayah Pebato (Poso Pesisir) juga dilakukan oleh pedagang-pedagang Bugis yang melakukan pencarian damar dan rotan sekitar wilayah tersebut. Umumnya pedagang-pedagang Bugis dalam melakukan perdagangan dan menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk setempat menggunakan alat transportasi laut sebagai kendaraanya. Penyebaran ajaran Islam di wilayah ini, oleh pedagang-pedagang Bugis tersebut sebagai “peletak dasar” terhadap pengetahuan awal tentang ajaran Islam di wilayah Poso Pesisir (Mapane). Tahap permulaan pengenalan Islam belum terasa pengaruhnya bagi Poso Pesisir, karena orientasi mereka lebih terkonsentrasi pada pencapaian kesuksesan perekonomian. Pengembangan Islam bukan fokus utama mereka.
Pada tahap pertama, saudagar-saudagar Islam Bugis yang berasal dari Bone tidak memperlihatkan usaha-usaha penyebaran Islam secara menyeluruh kepada penduduk, tetapi lebih memilih bersikap dan bertindak sebagai orang muslim tanpa harus mempengaruhi orang lain. Sikap dan perilaku yang diperlihatkan oleh saudagar dan merupakan pendatang, yang tentunya sikap dan tindakannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan penolakan dari para penguasa ataupun dari rakyat setempat.
Fase pertama ini tidak menghasilkan perkembangan Islam yang berarti dan secara kualitatif pemeluk agama Islam sangat sedikit dan bahkan dapat dikatakan perkembangannya sangat lambat. Meski demikian usaha ini dapat dikatakan sebagai “peletak dasar” benih-benih keislaman di sepanjang wilayah pantai Pesisir Poso. penanaman benih-benih keislaman ini merupakan cikal bakal perkembangan Islam nantinya. Perkembangan pada fase ini juga dapat dikatakan sebagai “pondasi awal” dikalangan penduduk setempat sebelum datangnya pengaruh Kesultanan Ternate yang penyebarannya dilakukna oleh Mubalig yang datang dari Ternate.
Sumber lokal dan tradisi lisan masyarakat setempat menjelaskan bahwa Islam masuk di wilayah Poso diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Bugis yang berasal dari Kerajaan Bone sekitar abad XVI. Tetapi, tidak diketahui secara pasti siapa nama pedagang Bugis tersebut yang merupakan pembawa Islam pertama di wilayah Kerajaan Poso Pesisir. Namun yang pasti bahwa pegenalan Islam di wilayah Poso Pesisir dilakukan oleh pedagang-pedagang Bugis Bone. Sedangkan pengenalan Islam di wilayah pedalaman (Vorstelanden) Kerajaan Lore, Bada, dan Napu dilakukan setelah pihak Belanda masuk di wilayah tersebut sekitar abad XX, yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Islam di Sulawesi Selatan. Mereka umumnya berasal dari Bugis, seperti Daeng Mabate, Daeng Malongi, yang berdagang hingga ke wilayah Bada, Daeng Matiro, Daeng Palindungi, Indorila, Ranti (Pua’na Batjo) yang berdagang hingga ke wilayah Besoa, serta Daeng Patatempa dan Pua’na Halima yang melakukan perdagangan ke wilayah Napu.
Nama-nama inilah menjadi peletak dasar ajaran Islam di wilayah pedaman Poso khususnya masyarakat Lembah Lore. Puana Halima berprofesi sebagai seorang pedagang campuran yang mengunakan kuda sebanyak 30 ekor sebagai tunggangan untuk mengangkut barang dagangannya dan disebut sebagai Kuta Pateke. Puana Halima memperkenalkan ajaran Islam tanpa paksaan.
Melihat sikap dan perilaku yang dilakukan oleh pedagang Bugis tersebut. Maka pada tahun 1920 para pedagang Bugis Islam diberi satu desa oleh raja Kado yang letaknya di antara Wasa dan Watumaeta, yaitu desa Popabohua. Desa ini menjadi pusat pedagang-pedagang Bugis yang secara tidak langsung juga melakukan penyebaran Islam di kalangan masyarakat Lembah Lore. Para pedagang tersebut berusaha memperkenalkan ajaran Islam melalui perkawinan. Pada 1920, Ranti kawin dengan seorang wanita Besoa yang bernama Bare, yang pernikahanya mendapat pertentangan dari pihak wanita. Perkewinan tersebut membuktikan bahwa, Bare adalah wanita pertama yang diperkenalkan ajaran-ajaran Islam oleh Puana Batjo (Ranti). Di wilayah Napu, orang yang pertama diperkirakan memeluk agama Islam adalah putri bernama Haya yang kawin dengan pedagang dari Sulawesi Selatan.
Ranti yang melakukan proses islamisasi di wilayah Kerajaan Lore (Napu dan Besoa) dibantu oleh para pedagang lainnya. Islam masuk di wilayah Bada diperkirakan terjadi pada tahun 1920. Upaya para pedagang untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Napu, Bada dan Besoa mengalami hambatan. Hambatan terhadap pengenalan Islam di wilayah tersebut disebabkan masyarakatnya masih memegang teguh keyakinan halaik atau kepercayaan suku mereka, sekalipun  intensitanya makin lama makin menurun. Namun demikian usaha dakwah tetap dilakukan tanpa harus meninggalkan tugas utama mereka sebagai seorang pedagang. Perkembangan Islam di wilayah tersebut mengalami kemajuan ketika keluarga-keluarga Bugis yang berasal dari Duri datang di wilayah tersebut dan melakukan perkawinan dengan penduduk setempat. Walaupun telah tersentuh oleh ajaran Islam, tetapi masih ada pula yang menyakini kepercayaan halaik dengan kata lain terjadi akulturasi antara ajaran Islam dengan kepercayaan setempat di kalangan masyarakat Napu dan Bada.
Fase kedua dalam penyebaran Islam di Poso dipengaruhi oleh Kesultanan Ternate. Pengaruh Kesultanan Ternate di kawasan Indonesia Timur khususnya sepanjang Kerajaan Bungku, Mori, Banggai, Kerajaan Tojo dan Una-una, dan Kepulauan Togean dan di wilayah-wilayah sepanjang pantai Poso Pesisir mulai nampak pada masa pemerintahan Sultan Hairun. Pada 1563 Sultan Hairun bermaksud mengislamkan Sulawesi Utara, Gorontalo, Moutong, Tomini, Tinombo, Sugenti, Kasimbar, Parigi, Sausu, Tojo, Ampana, dan Kepulauan Una-una dan Togean, namun hal tersebut dihambatan oleh tentara Portugis yang mengirimkan seorang missionaris yang bernama Peter Magelhaens. Sultan selanjutnya yaitu Sultan Baabullah yang berkuasa antara 1570-1580, berhasil membangun kekuatan maritim sehingga mampu menguasai wilayah Sulawesi dan Kepulauan Philipina.
Kekuatan militer dan kondisi tersebut tersebut, tampak bahwa penyebaran Islam di Poso merupakan gerak lanjut dari penyebaran Islam di Ternate. Perkembangan berikutnya, kerajaan-kerajaan yang berada dibawah pengaruh kesultanan Ternate meliputi Sasak (Lombok) Mena (Timor), Mawojang (Ende), Kajeli, Donggala, Mandar, Pesisir Utara dan Pesisir Pantai Timur Sulawesi (Moutong, Kasimbar, Parigi, Sausu) Poso Pesisir, Ampana, Una-una, Kepulauan Togean, Buton, Kepulauan Muna, Kepulauan Sangihe, Minahasa, Sabah, Mindanao, Kelu, Zamboanga, dan seluruh Kepulauan Maluku. Penyebaran Islam di kawasan tersebut dapat dibuktikan dari keterangan J.C. van Leur, bahwa daerah-daerah terjauh dan terdekat sebagian besar telah diislamkan. Faktor keberhasilan itu ditunjang oleh Kesultanaan Ternate yang didukung oleh kekuatan maritim dan kemampuan ekonomi dari hasil perdagangan rempah.
Daerah-daerah kerajaan di bawah pengaruh Kesultanan Ternate berkewajiban membayar uperti sebagai bentuk persembahan kepada raja yang memerintah pada saat itu. Pengaruh Kesultanan Ternate di kawasan Indonesia Timur ini meluas ke sepanjang pesisir Pantai Poso, sebagai daerah jalur lalu lintas para pelaut dan pedagang Islam.
Sebelum Islam masuk di Poso (kabupaten Poso sekarang), terlebih dahulu bermula dari Kerajaan Bungku sekitar pertengahan Abad XVI. Tokoh penyebar Islam pertama di Bungku yang berasal dari Kesultanan Ternate adalah Syekh Maulana atau yang lebih dikenal dengan Datu Maulana Bajo Johar. Proses penyebaran Islam oleh Syekh Maulana dilakukan pada masa pemerintaha raja Bungku pertama yaitu Marhum Sangia Kinabuku. Kerajaan Bungku memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Ternate karena mempunyai jalur lalu lintas perdagangan regional sehingga memiliki keterkaitan dengan dunia perdagangan ternaksud perkenalan dan sosialisasi Islam sebagai Agama Kerajaan Bungku. Hasil penelitian Widjono Wasis menunjukkan bahwa Islam masuk di wilayah Palu, Poso, Tojo Una-Una sekitar tahun 1680 M.
Proses penyebaran Islam di wilayah Kerajaan Bungku selanjutnya dilakukan oleh Kasili. Kasili adalah seorang pedagang rotan dan damar yang berasal dari ternate dan juga sebagai mubalig. Kasili memiliki badan yang tinggi besar, pemimpin perang, memiliki janggut yangpanjang dan suka memakai topi (songko) turki (songko turki). Penyebaran Islam yang dilakukan oleh beliau mubalig lokal yang ada di Bungku yang memiliki kecakaapan dalam menggunakan bahasa Arab, dan mampu meyakinkan masyarakat.
Raja-raja Bungku yang pernah diperkenalkan dengan ajaran Islam oleh Kasili adalah Abdul Wahab yang meninggal di Mekkah, Ahmad Haji, dan Abd Razak. Penyebaran Islam di wilayah Bungku juga dibantu oleh beberapa orang Kadi yang ada di Kolonodale, dan yang paling terkenal adalah Puang Nusu dari Balanipa Sulawesi Selatan.
Selain itu penyebaran Islam di Kerajaan Bungku juga dibantu oleh beberapa imam lokal, diantaranya adalah Malane yang menyebaran Islam hingga ke wilayah Kolonodale: Imam H. Muh. Hamid yang dikenal dengan nama Imam Kantoba, yang penyebarannya hingga ke wilayah Salabangka dan suku-suku lainnya termaksud suku Bajoe, dan Imam H. Muh. Alauddin.
Sedangkan Islam diwilayah Poso yakni di Posos Pesisir dibawa oleh pedagang Bugis yang bernama Baso Ali dan oleh orang Arab dikenal dengan panggilan Toean Sayyid. Menurut kisah rakyat diceritakan bahwa Baso Ali merupakan seorang pedagang Bugis yang sangat berani masuk ke wilayah Poso Pesisir, karena wilayah ini jarang didatangi oleh pendatang untuk melakukan perdagangan. Hal ini disebabkan karena orang-orang To-Pebato merupakan suku yang suka berperang, bahkan Albert Christian Kryut mengungkapkan bahwa To-Pebato merupakan suku yang suka melakukan pemotongan kepala (topongayo).
Penuturan lain menceritakan bahwa Baso Ali, sebagai seorang pedagang yang menganut ajaran Islam, suka melakukan perjalanan. Perjalanan Baso Ali tentunya untuk melakukan perdagangan dan penyebaran Islam, beliau melukan perjalanan dari Poso Pesisir ke Palu hingga ke Kulawi dan disana ia kawin dengan wanita yang ada di Kulawi.  Kemudian beliau melakukan perdagangan di wilayah Besoa hingga ke Bada. Dan disana ia melakukan perkawinan dengan seorang wanita pribumi di wilayah Besoa. Setelah menetap di Besoa akhirnya beliau kembali ke Mapane. Keturunan dari Baso Ali yang berasal dari Palu dikenal dengan nama Dumia, keturunan dari Kulawi dikenal dengan nama Lapadua’e, sedangkan dari Besoa disebut dengan Adjo Bolo.
Masjid yang tertua di wilayah Mapane adalah masjid Nunu yang dibangun tahun 1930 dan pemborongnya adalah seorang Cina yang bernama A Tek. Kayu yang digunakan dalam pembangunan mesjid tersebut adalah kayu jenis cempaka, kayu besi dan seng merk Apollo. Proses islamisasi di wilayah Mapane dibantu oleh para imam-imam mesjid itu antara lain: Guru Manan, Nuhu, Muh. Sado Lawira. Karim Lawira, Abd. Pakusu Basatu, Islam Labatjo dan Abd. Razak.
Tidak ada uraian jelas yang dikemukakan oleh Albert Christian Kruyt, N. Adriani, Wolter Kaudrn, J. Esser maupun dalam cerita-cerita rakyat bahkan dalam oral history tentang tahun berapa masuknya Islam di wilayah Poso, namun yang pasti bahwa Islam masuk di Poso sejak pertengahan abad XVII yang dibawa oleh pedagang-pedagang yang berasal dari Bugis.
Melalui suatu ukuran waktu yang panjang kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Bungku, Tojo, Una-Una, Pamona, Mori dan pedalaman Poso (Napu, Besoa, serta Bada) telah menerima pengaruh Islam dari dua jurusan yaitu: pertama agama Islam dari selatan, yaitu para pedagang-pedagang Bugis, meskipun para pedagang itu tidak memperhatikan kualitas dan kauntitas peneluk Islam karena perhatian mereka adalah berdagang. Kedua, dari Timur yaitu Kesultanan Ternate, yang dibawa oleh para mubalig dari Ternate seperti Syekh Maulana dan Kasili di Kerajaan Bungku dan Baso Ali di Poso Pesisir yang memperkenalkan Islam tanpa paksaan.
Ada dua aliran agama Islam masuk di wilayah Poso yaitu aliran yang dibawa oleh para saudagar yang berasal dari Bugis maupun Mandar dengan menggunakan aliran yang bersifat fleksibel. Aliran semacam ini lebih dikenal dengan istilah Islam Tua. Perkembangan Islam Tua tidak terlalu memperdulikan jumlah pemeluknya, dan umumnya lebih banyak disebarkan kepada masyarakat awam dengan hubungan pribadi tanpa unsur paksaan, dan dilingkungan keluarga. Perkembangan ini menyebabkan penyebaran Islam bersifat statis.
Pada pertengahan abad XVII masuklah pengaruh Islam dari jalur timur yaitu dari Kesultanan Ternate yang dibawa oleh mubalig-mubalig yang menyebar ke seluruh wilayah Poso. Penyebaran Islam di Poso yang dibawa oleh mubalig yang berasal dari Ternate ini dikenal dengan istilah agama Islam Muda. Disebut Islam Muda kerana untuk membedakan dengan Islam Tua, dan untuk menbedakan jenjang waktu masuknya Islam di wilayah ini.  Agama Islam muda ini lebih mementukngkan kualitas dan jumlah pemeluknya dan Islam Muda mampu mempertahankan ajaran Islam murni di tempat penyebarannya sehingga unsur-unsur kepercayaan lokal tidak lagi dominan.
Usaha Penyebaran Islam mendapat keberhasil yang besar. Sebab usaha yang ditempuh oleh para mubalig yang berasal dari pedagang-pedagang Bugis maupun para mubalig yang berasal dari Ternate mampu melakukan tindakan persuasif terhadap raja-raja yang ada di Pesisir Poso. Setelah memeluk Islam umumnya mereka berganti nama yang Islami, walaupun para raja tersebut masih menganut Islam sinkretis. Penyebaran agama Islam di Poso oleh para saudagar Bugis tidak dilakukan secara tuntas dikalangan masyarakat biasa, sehingga ajaran Islam tidak berurat akar di dalam masyarakat dan bercampur dengan kepercayaan lokal (sinkretisme), dan bahkan mengalami proses mitologisasi.
Suatu keunikan yang dimiliki daerah Poso oleh para saudagar merupakan jalur lintasan perdagangan di Nusantara adalah bahwa sebelum adanya pengaruh Portugis, di wilayah tersebut telah terjadi aktivitas perdagangan dan pelayaran dan navigasi tradisional dan telah melakukan integrasi regional dan internasional perdagangan antar pulau. Hal ini berkaitan dengan sifat dan sikap para pedangang dan pelayar yang cenderung mengembara mencari daerah pasaran dan daerah produksi komoditi. Hubungan politikpun tercipta berkat adanya jalinan perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan pelayar tersebut. Interaksi antara masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi memungkinkan terbentuknya komunitas-komunitas baru Islam dimanapun mereka singgah. A.B. Lapian mengemukakan bahwa terdapat beberapa indikator yang menunjukkan sudah sejak lama ada interaksi pelbagai sistem kelautan yang ada di Nusantara.
Jika dicermati tampak bahwa proses Islamisasi yang ada di wilayah Poso memberikan suatu kesan bahwa pengaruh dari luar lebih dominan dalam pengislaman wilayah tersebut. Namun demikian, dari beberapa sumber arsip Belanda maupun sumber-sumber lokal lainnya juga terlihat bahwa penduduk sepanjang wilayah tersebut dengan pengetahuan navigasi maritim tradisional mampu mengarungi lautan sampai Gorontalo, Ternate, Minahasa, bahkan sampai ke Jawa, dan karenanya ini memberikan gambaran bahwa penduduk pribumi juga memiliki andil dalam penyebaran Islam di wilayah Poso. Hal ini dapat dibuktikan pula dengan tampilnya para tokoh-tokoh pribumi seperti Marodong, Malane, H. Muh. Alauddin, H. Muh. Hamid yang dikenal dengan nama Kantoba, di kerajaan Bungku, Guru Manan, Imam Nuhu, Muh Sado Lawira, Karim Lawira, Abd Pakusu Basatu, Islam Labatjo, Abd. Razak yang kesemuanya berasal dari wilayah kerjaan Poso Pesisir. Demikian pula wilayah Kerajaan Tojo, seperti Imam Bunai, Pabemba, Lengke Mawo, dan Mangge Noho.
Kajian Ricklefs pada umumnya proses islamisasi berlangsung dalam dua tahap. Pertama, penduduk berhubungan dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing seperti Arab, India, Cina dan lainnya yang menganut agama Islam tinggal secara permanen di suatu tempat, selanjutnya melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa, namun sebenarnya mereka itu sudah memeluk Islam.
Tetapi data dan informasi di lapangan tentang masuknya Islam di Poso teryata berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan kurang informatifnya bahan-bahan sejarah yang autentik dan terlalu jauhnya rentang waktu masuknya Islam di wilayah tersebut.
Pada prinsipnya kedatangan Islam di wilayah Poso memiliki beberapa motif yaitu: 1) motif ekonomi, 2) motif penerimaan yang didorong agama, dan 3) motif pengembangan atau yang dorong oleh politik.
Motif ekonomi pada umumnya di lakukan oleh para saudagar-saudagar yang berasal dari Selatan yaitu Bugis. Pola mereka dalam memperkenalkan ajaran Islam tersebut lebih bersifat individu dan tidak mementingkan jumlah penganutnya. Namun tidak bisa disangkal bahwa mereka inilah yang membawa benih-benih ajaran keislaman di wilayah Poso. Tetapi pada periode ini penerimaan Islam di wilayah Poso tidak bersifat pasif. Karena munculnya para Imam lokal, seperti telah disebutkan di atas, sangat membantu perkembangan dan penyebaran Islam di sepanjang pantai Teluk Tolo dan Teluk Tomini.
Kemungkinan setelah periode penerimaan, dengan dorongan motif agama, telah dibangun mesjid atau langgar sebagai pusat kegiatan masyaraakat Islam. Hal ini sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendirikan mesjid atau langgar dimanapun di kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam. Hal ini yang perlu kita pertanyakan adalah sejak kapan mesjid pertama kali didirikan dan di wilayah mana pertama kali dibangun. Tidak ada suatu catatan yang pasti, namun yang jelas bahwa pendirian mesjid di wilayah Poso sejak lama sudah ada, bahkan di Kerajaan Bungku terdapat Mesjid Tua yang diperkirakan setua kerajaan Bungku itu sendiri dan merupakan salah satu mesjid tertua di Sulawesi Tengah.
Fase perkembangan penyebaran Islam pada tahap yang dilakukan oleh orang-orang Arab intensitasnya terjadi sekitar jauh sebelum abad XX. Peranan orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di tanah air cukup besar. Proses penyebaran Islam di wilayah Poso yang dilakukan oleh orang Arab dilakukan secara terorganisir. Hal ini dibuktikan dengan datangnya Al’alimul Allamah Albahrul Fahharabbiqny Alhaj Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie yang berasal dari Palu. Masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya dan Poso pada khususnya menyebut dengan panggilan Guru Tua atau lebih akrab Ustad Tua.
Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie ketika berusia muda telah menunaikan ibadah Haji bersama ayahnya. Pada tahun 1914 untuk pertama kalinya beliau melakukan kunjungna ke Indonesia dalam rangka kunjungna keluarga di Pulau Jawa dan Sulawesi.
Sejak “peristiwa Aden” meletus di hadratulmaut, Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie meninggalkan tanah tercintanya untuk selama-lamanya dan hijriah ke Indonesia. Ia menjadi seorang mubalig dan saudagar di Batavia, Solo, Jombang, dan terakhir di Pekalongan. Kemudian ia hijrah ke Makassar, Maros, Donggala, dan Manado.
Pada 1929 Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Wani, kedatangan beliau atas ajakan masyarakat Arab melalui saudaranya, Syeh Aldjufrie di Manado. Kedatangan Guru Tua di Wani oleh masyarakat diupayakan untuk mempercepat pembukaan madrasah. Agar Ustad Tua mau lebih lama tinggal di Wani, maka Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie dijodohkan dengan seorang wanita keturunan Arab Wani, Syarifah Kalsum bin zen Almahdany. Pembukaan madrasah di Wani ternyata tidak diizinkan oleh Belanda, sehingga madrasah tersebut dialihkan ke Palu. Pada tahun yang sama Ustad Tua melakukan pendekatan terhadap raja Parigi, Moutong, Poso, dan Tojo serta kepala penghulu agama. Pada periode ini pula Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie, melakukan pendekatan kepada masyarakat Pagiri, Poso, Ampana, Luwuk, Banggai, Tinombo, Gorontalo, Manado, dan wilayah Ternate, dan juga daerah Kalimantan serta pulau Jawa.
Pendekatan melalui para raja dan kepala pemerintahan setempat membantu proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh Ustad Tua. Itulah sebabnya masyarakat Poso banyak mendukung dan mengikuti program yang dicanangkan oleh Ustad Tua. Disamping penyebaran Islam di kalangan masyarakat Poso, Ustad Tua juga melakukan pencarian dama dalam rangka pembangunan gedung Al-Khairaat pada tahun 1930.
Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie di wilayah Poso dan sekitarnya membawa dampak terhadap perkembangan Islam. Namun demikian pada tahun 1942, pihak kolonial menghukum Ustad Abdussamad, kepala Madrasah Cabang Dondo-Ampana bersama 5 kawannya, dan dibuang ke laut antara Tojo dan Poso di perairan teluk Tomini.
Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie mengembangkan faham aliran ahli sunnah waljamah yang biasa juga disebut dengan aliran Asy’ariyah, sedangkan mazhabnya adalah Syafi’iyah. Pembukaan Madrasah Al-Khaeraat oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie merupakan kesempatan untuk menimbah ilmu pengetahuan agama. Murid-murid dalam Madrasah pada tahun 1950-an ini berasal dari daerah yang ada di Sulawesi Tengah tanpa terkecuali dari daerah Poso yang diantaranya: H.A. Badjeber, Mahfud Badjeber, Jabo S., Abd. Gani (Poso), dan Sahel Adu.


Atas perintah dan petunjuk dari Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie, pengembang ajaran Islam yanga ada di Bungku dipercayakan kepada Hasjim pada tahun 1940. Kemudian pada tahun 1941 dibuka Madrasah Al-khaeraat wilayah Poso Kota dan desa Ngawia yang dipimpin langsung oleh Nawawian Abdullah dan Nur Hasan.